Assalamu’alaikum Wr Wb
Ukhti…Ana[1] mohon maaf yang sebesar-besarnya kalau selama ini banyak khilaf yang Ana lakukan. Ana do’akan Ukhti bisa menjadi muslimah yang baik. Tetaplah bersemangat untuk belajar ilmu agama. Oia Ukhti…Ana titipkan Al-Qur’an oleh-oleh dari Madinah ke Kakak Anti[2]. Semoga bermanfaat ya…jangan lupa untuk selalu dibaca, supaya pahalanya mengalir ke Ana. Terimakasih Ukhti atas semuanya. Tetap semangat Ukhti…
Wassalamu’alaikum Wr Wb
Farida menangis ketika membaca email. Dia menemukan wasiat dari email itu. Dia berusaha akan melaksanakan wasiat tersebut. Di sisi Benua yang lain, Syeikh Ahmad juga sedang membaca email. Matanya basah dan berkali-kali mengucap "Allahumma firlahu warhamhu wa`afihi wa`fu`anhu".[3] “Bidadari telah menunggumu di SurgaNya Nak…”. Lirih Syaikh Ahmad.
***
Hakim merupakan sosok pemuda yang alim, disiplin, cerdas, dan kuat. Sejak usia lima tahun dia sudah mulai belajar tahfidz[4] di Ma’had Qur’an[5]. Dia Berangkat setiap pagi, ba’da[6] subuh dan pulang ba’da ashar. Sampai di rumah langsung berangkat untuk berjama’ah sholat marib di masjid bersama ayahnya . Ba’da Isya’ baru pulang ke rumah, lalu makan malam bersama. Selanjutnya Hakim dan dua adiknya langsung masuk kamar untuk tidur. Pagi jam tiga Hakim sudah dibangunkan oleh sang ayah untuk mandi dan menambah hafalannya dengan didampingi sang ayah. Tak lupa sang ibu selalu menyajikan madu dan susu untuk menjaga kesehatannya. Ba’da subuh ayahnya siap mengantar Hakim dengan mengendarai motor untuk muroja’ah[7] dan setor hafalan baru ke Syaikh Ahmad di Ma’had. Perjalanan yang ditempuh kurang lebih dua jam. Di sepanjang perjalanan Hakim memuroja’ah hafalannya dan sang ayah menyimaknya. Sungguh fenomena yang menkajubkan, Al-Qur’an di letakkan di depan ayahnya, sedangkan sang anak di belakang sambil mendekatkan mulutnya ke telinga sang ayah. Hal tersebut berlangsung sampai usia Hakim tujuh tahun.
Kegitan tahfidz Al-Qur’an yang menyenangkan, tidak hanya murojaah dan nambah hafalan, melainkan mereka juga bermain sebelum Dhuha dan tidur siang setelah makan siang di Ma’had tersebut. Para Masyaikh paham bagaimana cara mendidik anak-anak untuk menjadi hafidz[8] Qur’an. Dalam waktu dua tahun, Hakim bisa menyelesaikan program tahfidz 30 juz. Jadi pada usianya yang masih sangat belia, tujuh tahun, dia sudah menjadi Hafidz.
***
Konflik di Sudan membuatnya kehilangan kedua orang tua dan juga adiknya. Fase hidup yang sangat memilukan hatinya. Di usianya yang masih delapan tahun, dia harus menghadapi kenyataan tersebut. Kakek dari sang ayahnya lah yang akhirnya mengasuh Hakim. Meskipun begitu, Hakim sudah sangat mandiri di usia tersebut. Dia bisa bantu kakeknya untuk berjualan baju di pasar. Hal tersebut meneruskan usaha ayah dan juga ibunya. Dulu ayah dan ibunya sebagai penjual baju. Baju-baju dagangannya hasil jahitan ayahnya sendiri.
Setiap jam tiga pagi, Hakim bangun lalu mandi dan lanjut sholat. Sebelum subuh Hakim muroja’ah beberapa lembar Al-Qur’an, tidak lupa dia membuat susu dan madu untuk nya dan juga sang kakek. Dia bersama kakeknya selalu berjama’ah subuh di masjid. Sepulang dari masjid kakeknya membuat sarapan, sedangkan Hakim menyiapkan barang dagangan yang akan di jual di pasar. Hakim selalu menyempatkan muroja’ah di setiap waktu, bahkan ketika menunggu barang dagannya di pasar sekalipun. Kakeknya sangat bangga pada Hakim, kakeknya ingin melihat Hakim menjadi Ustadz yang bisa menyampaikan kandungan-kandungan Al-Qur’an yang sudah dihafalnya.
Ketika Hakim memasuki usia 12 tahun, sang kakek mendaftarkannya pada sebuah sekolah agama. Awalnya Hakim tidak mau, karena kalau sekolah dia tidak bisa bantu kakeknya berdagang. Namun setelah mendengar penjelasan sang kakek, bahwa ilmu itu sangat penting dan ilmu yang bermanfaat bisa menjadi amal jariyah bagi pengamalnya.
“Apabila seorang keturunan Adam meninggal dunia maka terputuslah amalnya kecuali dari tiga hal: shadaqah jariyyah, atau ilmu yang bermanfaat, atau seorang anak shalih yang mendo’akannya.”[9]
Kakeknya menambahkan lagi, bahwa dengan ilmu manusia bahagia di dunia hingga akhirat
“Barang siapa yang menghendaki kebahagiaan di dunia maka harus dengan ilmu, dan barang siapa menghendaki kebahagiaan akhirat maka harus dengan ilmu. Dan barang siapa yang menghendaki kebahagiaan keduanya (dunia dan akhirat) maka harus dengan ilmu”[10]
Tak terasa air matanya meleleh dan semangat untuk belajarnya menggelora. Dia langsung menerima tawaran kakeknya untuk bersekolah, namun dia mengajukan syarat kepada kakeknya, kalau kakeknya harus berhenti menjahit. Hakim yang akan menjahit sepulang atau sebelum berangkat sekolah, jadi kakeknya hanya menunggu dagangan di pasar. Hakim juga akan tetap membantu kakeknya membawa barang dagangannya ke pasar dan juga pulang dari pasar. Hakim tidak tega melihat kakeknya berdagang sendiri. Kakeknya setuju dan langsung memeluknya dengan erat. Kakeknya membayangkan betapa bangga orang tuanya menyaksikan kebaikan dan kelembutan anaknya. Sambil mengecup kepala Hakim dengan tulus, sang kakek berdo’a dalam hati “Ya Allah…jadikan anak ini anak sholeh mempunyai ilmu yang bermanfaat”
***
Di sekolah Hakim termasuk anak yang cepat menerima pelajaran, hasil belajarnya selalu memuaskan. Dia selalu lulus dengan nilai terbaik di setiap semesternya. Padahal kalau dilihat dari jam belajarnya, mungkin anak-anak yang lain punya waktu belajar yang lebih banyak. Sedangkan Hakim selain belajar, masih punya tanggung jawab lain. Dia belajar hanya satu jam dalam sehari, yaitu sebelum subuh tiba.
Tak terasa Hakim hampir menyelesaikan sekolah agamanya, dia berencana untuk melanjutkan kuliah di Islamic University of Madinah, Fakultas Qur’an dan Dirasat Islamiyah. Dia ingin mendalami Al-Qur’an yang sudah dihafalnya sejak umur tujuh tahun. Dia juga mendapat informasi kalau Universitas tersebut memberi beasiswa dari seluruh dunia yang lulus seleksi. Namun dia bimbang kalau harus meninggalkan kakeknya sendirian dengan kondisi kesehatannya yang kurang bagus beberapa bulan terakhir.
Hakim tidak menyampaikan keinginannya tersebut kepada sang kakek. Dia hanya mencurahkan keinginanya tersebut kepada Allah, ketika selesai sholat. Dia minta yang terbaik dari Nya, kalau kuliah di Madinah bukan yang terbaik, maka dia ikhlas menerimanya. Dia berencana kalau sudah lulus dari sekolahnya, dia akan mencoba mengamalkan ilmunya dengan mengajak anak-anak disekitar rumahnya untuk belajar menghafal Qur’an. Dan dia tetap bisa membantu kakeknya berdagang.
Suatu malam, menjelang pukul tiga dini hari kakeknya batuk hebat, Hakim langsung bangun menuju kamar sang kakek. Dia dapati kakeknya duduk bersila di atas sajadah sambil tangannya memegang dada. Batuknya tidak kunjung berhenti, Hakim mencoba mengambilkan minum, namun batuknya tetap saja berulang. Dan yang membuat Hakim khawatir, batuknya disertai darah. Kakeknya tetap tenang sambil berucap “Saya tidak apa-apa Nak…kamu sholat dulu sana”. Hakim hanya bisa mengangguk, lalu beranjak untuk mandi dan sholat.
Hakim larut dalam do’a panjangnya minta pada Allah SWT untuk kesembuhan sang kakek. Dia ingat perjalanan hidup bersama sang kakek selama tuju tahun. Tidak ada memory buruk yang terkenang, semua baik. Kebaikan, kelembutan, serta ketulusan sang kakek membuat Hakim tumbuh menjadi pemuda yang tangguh. Memorynya terputrus dengan suara batuk yang terdengar dari kamar sang kakek, Hakim langsung lari menujunya. Dia dapati darah mengalir dari mulutnya serta baju putihnya yang penuh noda merah. Posisi sang kakek sudah terlentang, Hakim memangku bagian kepalanya dan terdengar bisikan dari mulut sang kakek, “Nak…kamu harus jadi anak yang sholeh, banggakan kedua orangtuamu di Surga, dan nanti kita ketemu lagi di sana insya Allah”. Hakim hanya mengangguk dan lirih mengucap “Insya Allah Kek”. Air mata Hakim mengalir deras, namun dia segera ingat bahwa dia harus mentalqin[11] kakeknya. “La ilaha illallah[12]… La ilaha illallah… La ilaha illallah” sambil mendekatkan ke telinga kakeknya. Sang kakek tersenyum mendengarnya lalu berbisik “Kamu anak yang pandai Nak…” dan mengikuti Hakim melafalkan “La ilaha illallah”. Hakim mentalqin sambil berurai air mata, kakenya mengikutinya sambil mengusap airmata Hakim, seolah berkata “Kamu jangan nangis Nak…nanti kita bertemu lagi”. Nafas sang kakek mulai memendek, Hakim tak putus mentalqinnya. Senyum sang kakek mengembang bagai ketemu dengan pujaan hati. Dan senyum itu tetap menghiasi wajahnya meski sudah tidak bernafas lagi. “Inna lillahi wa inna ilaihi rooji’un”[13], lirih Hakim. Hakim melihat jam, 10 menit menjelang subuh. Hakim memejamkan mata sang kakek dan membenarkan posisinya. Lalu dia bangkit menuju masjid untuk adzan subuh, sepanjang jalan menuju masjid tak putus dia mendo’akan sang kakek khusnul khotimah.
Usai sholat berjama’ah, dia memberitahu kepada para jama’ah sholat subuh kalau kakeknya meninggal dunia. Seluruh jama’ah mengucap “Inna lillahi wa inna ilaihi rooji’un”. Lalu para jama’ah membantu pengurusan jenazah sang kakek hingga menguburkannya.
***
Satu tahun lagi Hakim lulus dari sekolah agamanya. Selain sekolah, Hakim juga masih menjahit dan juga berdagang pakaian. Ketika dia harus sekolah, dia menitipkan dagangannya ke pedangang di samping kiosnya, paman Karim, Hakim memanggilnya. Paman Karim itu teman dekat kedua orang tua Hakim sejak berdagang di pasar dulu, jadi hubungan mereka sudah sangat dekat. Paman Karim dengan senang hati membantu Hakim. Sebenarnya paman Karim menyuruhnya untuk tinggal dirumahnya dan akan menganggapnya seperti anak sendiri. Bahkan paman Karim melarangnya untuk berdagang, biar fokus belajar. Dan bersedia membiayai sekolah sekaligus hidupnya. Namun Hakim menolaknya, dengan alasan ingin hidup mandiri.
Keinginannya untuk belajar di Madinah kembali datang menghampiri pikirannya. Dia teringat Syaikh Ahmad. Hakim mengagendakan untuk silaturahim ke Syaikh Ahmad dan minta pendapatnya, terkait keinginannya tersebut.
Hari Jum’at sore Hakim tiba di Ma’had, Syaikh Ahmad langsung menyambutnya dengan hangat. Mereka saling berpelukan erat, bagai ayah dan anak yang lama tidak berjumpa. Mereka saling bercerita tentang kehidupannya masing-masing, Syaikh Ahmad sedih ketika mendengar cerita Hakim, dan berlirih “Innalillahi wa inna ilaihi rooji’un.”“Allahummaghfir lahum warhamhum, wa ‘aafihi wa’fu ‘anhum”. “Jangan lupa untuk terus mendo’akan mereka”, lanjut Syaikh Ahmad. Hakim mengangguk, dan lirih mengucap “Insya Allah”.
Setelah Syaikh Ahmad selesai memberi nasehat, Hakim menyampaikan keiginannya. Syaikh Ahmad sangat senang mendengarnya dan langsung memberi tahu syarat dan informasi terkait kuliah di Madinah. Semangat Hakim tambah membara, di dalam benaknya langsung terbayang rencana-rencana ke depan.
***
Saat kelulusan tiba, Hakim diantar paman Karim untuk datang ke sekolah. Hakim menjadi lulusan terbaik di sekolahnya. Tangisnya pecah, begitu pula paman Karim ketika mendengar pengumuman tersebut. Tak lupa Hakim panjatkan sujut syukur yang panjang, sebagai wujud rasa terima kasih kepada Sang Pencipta.
Sepulang dari sekolah, Hakim menyampaikan rencananya ke paman Karim. Paman Karim senang sekali mendengarnya, bahkan Beliau bersedia mengantar sampai Madinah.
***
Dream comes true, mimpi Hakim untuk kuliah di Madinah akhirnya tercapai juga. Pagi itu sesampainya di Madinah, Hakim dan paman Karim langsung sujud syukur, aura tempat suci terpancar dari kebersihan serta keramahan penduduknya. Mereka menuju asrama mahasiswa yang tidak jauh dari Masjid Nabawi. Mereka menyempatkan untuk ke masjid Nabawi terlebih dahulu. Rasa rindu pada baginda Nabi Muhammad SAW langsung menusuk hati, air mata meleleh tak kuasa dibendung. Sholat Tahiyatul Masjid[14] ditegakkan dengan khusyuk. Dzikir setelah sholat terasa sejuk, merasuk di hati. Sungguh benar terasa aura kota sucinya. Tak ingin rasanya untuk melangkahkan kaki keluar, yang ada hanya ingin tetap duduk bertafakur dan tilawah.
Akhirnya ba’da sholat Isya’ mereka baru menuju asrama. Sambutan hangat dari panitia membuat Hakim mudah untuk check in di asrama. Hakim langsung diantar menuju kamarnya. Kamar yang nyaman dan kondusif, serta lengkap dengan AC dan perabotannya.
***
Hakim larut dalam perkuliahannya, belajar di Fakultas Al-Qur’an dan Studi Islam membuatnya tambah cinta dengan Al-Qur’an. Selain belajar tentang Tafsir dan Qiroah, Hakim juga belajar tentang Fiqh, Aqidah, Sejarah dan Bahasa. Kuliah di Islamic University of Madinah 100% gratis. Hakim tidak perlu mikir berdagang untuk biaya hidupnya. Semua full ditanggung oleh Universitas. Mulai dari uang saku, uang buku, kuliah gratis, asrama gratis, jaminan kesehatan, uang makan, bahkan bagi mahasiswa baru akan mendapat uang ganti atas persiapan-persiapan yang dilakukan sebelum sampai Madinah, seperti uang terjemahan, uang check kesehatan dll.
Dalam hati, Hakim berazam[15] untuk bisa fokus kuliah dengan hasil cumlaude[16], tidak ada alasan untuk tidak belajar. Semua fasilitas mendukung, bahkan fasilitas ibadahpun sangat mendukung. Setiap hari bisa sholat lima waktu di masjid Nabawi. “Shalat di masjidku (Masjid Nabawi) lebih utama daripada 1000 shalat di masjid lainnya selain Masjidil Harom. Shalat di Masjidil Harom lebih utama daripada 100.000 shalat di masjid lainnya.”[17]
Bisa ibadah dan belajar maksimal. Berkali-kali Hakim berlirih Fabiayyi ‘ala irobbikuma tukadziban...[18]
Hakim mulai punya temen akrab, namanya Fatih. Fatih merupakan keturunan arab, namun keluarganya sudah lama tinggal di Makasar, Indonesia. Keluarganya pembisnis kayu gaharu, serta punya beberapa restoran timur tengah di Indonesia. Hakim semakin tertarik mendengar Fatih tinggal di Indonesia. Hakim penasaran dengan Indonesia, selama ini yang dia dengar Indonesia adalah Negara yang subur, aman dan jumlah penduduk muslim terbanyak di dunia. Namun Fatih tidak bisa bercerita banyak tentang Indonesia, karena dari kecil dia tinggal di Abu Dhabi, baru tiga tahun dia datang ke Makasar.
***
Hakim dan Fatih semakin akrab, selain satu kelas, ternyata mereka juga satu gedung di asrama Jam'iyyatul Birr yang terletak 1,5 km utara Masjid Nabawi. Bahkan ke masjid juga sering bareng. Selain sering berbincang tentang mata kuliah, mereka juga saling bercerita tentang kehidupan keluarganya. Hakim agak minder setelah mengetahui kalau Fatih ternyata dari keluarga bangsawan, pembisnis sukses dan kaya raya. Namun suasana berhasil dicairkan oleh Fatih, dia mengingatkan bahwa semua hanya titipan dari Allah. Manusia meninggal hanya membawa amalnya, harta dan keluarga semua ditinggal di dunia. Hakim mengangguk, mengiyakan.
Tak terasa waktu berjalan sangat cepat. Dua semester telah terlampaui dengan hasil yang memuaskan, Hakim senang bisa mengawali satu tahun kuliahnya dengan baik. Liburan musim panas tiba. Hakim diajak teman-temannya kerja di travel umroh. Tanpa berpikir panjang, Hakim langsung menerima tawaran Fatih, Irfan dan Iwan. Travel biasanya menggaji para muthowwif [19] sekitar 150-200 real per hari. Adapun musim haji mereka bisa dibayar sekitar 1500 – 2000 dolar permusim (25 – 28 hari kerja). Berkah yang luar biasa dirasakan Hakim dan teman-temannya.
***
Diakhir kuliah S1 nya banyak teman Hakin yang akan menikah, salah satunya Fatih. Fatih akan menikah dengan gadis Jawa Semarang yang dulu pernah menjadi jama’ah umrohnya. Gadis tersebut bernama Gendhis, anak dari rekan bisnis ayahnya Fatih. Pada waktu umroh, ayahnya Gendhis sekilas melihat name tag Fatih yang tertera marganya, yang kebetulan marga tersebut sama dengan rekan bisnisnya. Dia memberanikan diri untuk tanya lebih lanjut ke Fatih, ternyata Fatih adalah anak dari rekan bisnisnya. Singkat cerita, ayahnya Gendhis berniat menjodohkan anaknya, dan ternyata disambut baik oleh keluarga Fatih. Akad nikah dan resepsinya akan dilaksanakan tanggal 15 Syawal, masa libur terakhir sebelum sidang S1.
Hakim diundang sekaligus mendapat tiket PP Madinah-Indonesia. Dia tidak bisa menolak. Dia berangkat bersama Irfan dan Iwan yang kebetulan mereka asli Indonesia, sekalian menggunakan jatah tiket PP liburan mereka.
***
Akhirnya Hakim menginjakkan kakinya di tanah Indonesia. Hakim tinggal di rumah Iwan, di Semarang. Sedangkan Irfan pulang ke kampung halamannya di Palembang, Sumatera Selatan. Irfan akan datang ke Semarang sehari sebelum akad nikahnya Fatih dan Gendhis.
Malam takbiran suasana rumah Iwan ramai, banyak sanak saudaranya yang datang membawa makanan. Tradisi di Jawa kalau mau Idul Fitri saudara yang lebih muda memberi sesuatu, seringnya berupa masakan khas lebaran, kepada saudaranya yang lebih tua. Orang tua Iwan anak kedua di keluarganya, jadi banyak adik-adiknya yang mengantar maknan ke rumahnya. Selain adik-adiknya ternyata tetangga juga pada datang membawa makanan. Tapi ada yang spesial malam itu, ayahnya Iwan memanggilnya ketika ada tamu seorang gadis yang disertai kakaknya. Gadis Jawa yang anggun dan sholehah, Aisyah namanya. “Iwan kamu temui dulu tamunya, ayah mau ngantar adikmu ke rumah Pakde.” Iwan langsung menarik tangan Hakim untuk minta ditemenin.
“Assalamu’alaikum mas Iwan,” sapa gadis itu.
Iwan agak gagap menjawabnya, “Wa’alaikumussalam waroh matullah.”
“Ini mas ada titipan dari Ibu untuk keluarga mas Iwan.”
“Oh iya terima kasih, sebenarnya nggak usah repot-repot lho...”
“Nggak repot Wan, ini kan masakan Ibu dan Aisy sendiri, jawab kakaknya Aisyah”
Nggak lama kemudian terdengar adzan Isya’, “Wah Mas kita lanjutkan nanti ya ngobrolnya, kita sholat dulu.”
“Iya ngak papa Wan, sampe ketemu minggu depan ya,” sahut Kakaknya Aisyah.
“Insya Allah,” jawab Iwan.
“Aisy sampaikan terimaksih pada Ibu ya, salam buat Bapak, lanjut Iwan”
“Insya Allah Mas nanti Aisy sampaikan,” jawab Aisyah.
Kedua mata Iwan dan Aisyah sempat beradu, dan ces…terasa di hati. Iwan langsung komat-kamit istiqfar, begitu juga Aisyah.
***
Setelah sholat Idul fitri, keluarga Iwan berziarah ke makam kakek –nenek serta sesepuh yang sudah meninggal. Setelah itu mereka sarapan bersama, tak lama kemudian banyak tetangga dan saudara yang datang untuk sungkem ke orang tua Iwan, maklum orang tua Iwan termasuk yang dituakan di kampungnya. Iwan beserta adik-adiknya juga silaturahim ke tetangga dan juga kerabat. Iwan memperkenalkan Hakim kepada tetangga dan juga kerabatnya. Hakim senang, mendapati tetangga dan kerabat Iwan yang welcome kepadanya.
Tanggal dua Syawal ayahnya Iwan mengadakan rapat keluarga, rapat tersebut dihadiri oleh kelurga inti, saudara-saudara dari Ayahnya Iwan, dan tak lupa Hakim juga diundang. Hakim terkejut ketika mengetahui kalau rapat tersebut membahas tentang lamaran Iwan ke Aisyah yang akan dilaksanakan tanggal tuju Syawal. Dalam rapat tersebut Ayahnya Iwan membagi tugas untuk persiapan dan saat hari H nya.
Setelah rapat selesai Iwan minta maaf ke Hakim kalau tidak memberi tahu sebelumnya perihal lamaran tersebut. Hakim tidak mempermasalahkan, dia minta do’a semoga segera menyusul. Iwan mengaminkannya.
Hakim membantu persiapan lamaran, mulai dari membeli barang seserahan, kue-kue, menghias seserahan dsb. Bagi Hakim itu sebuah hal yang baru, melihat barang seserahan yang dihias sedemikian bagusnya dengan aneka bentuk. Hakim banyak membantu dalam persiapan tersebut. Dia menemani adiknya Iwan, Farida dan Farid, si kembar, untuk kesana kemari mempersiapkan segalanya. Hakim jadi ingat almarhum adik-adiknya, mereka seumuran Farida dan Farid.
Hari yang dinanti datang juga, pagi itu ada tiga mobil yang sudah terparkir di halaman rumah Iwan. Mobil-mobil tersebut yang akan dipakai untuk lamaran. Hakim satu mobil dengan Farida dan Farid, mobil tersebut khusus untuk memuat barang-barang lamaran. Sedangkan dua mobil lainnya untuk kelurga inti serta saudara-saudara dari Ayahnya Iwan.
Acara lamaran berjalan lancar, dan sudah disepakati kalau akad dan resepsi pernikahan akan dilaksanakan akhir tahun setelah Iwan wisuda S1. Setelah acara lamaran selesai Hakim minta izin Iwan untuk menyampaikan kabar tersebut kepada Irfan. Setelah mendapat izin hanya Irfan yang boleh tahu kabar tersebut, Hakim kirim pesan bahwa Iwan baru saja mengkhitbah[20] seorang gadis. Ternyata sore harinya di Palembang terjadi hal yang sama, Irfan juga mengkhitbah gadis pujaan hatinya. Masya Allah…padahal mereka tidak saling memberi kabar tentang itu, karena kalau masih proses khitbah sebaiknya info tersebut tidak disebar luaskan.
Tidak bisa dipungkiri, melihat sahabat-sahabatnya yang sudah proses menuju pernikahan, muncul rasa kepingin untuk menikah dalam hati Hakim. Dia kembali mengingat temen-temen sekolah ketika di Sudan. Dalam ingatannya tidak ada gadis yang membuatnya tertarik. Hakim bercermin diri, dengan kondisi dirinya yang sebatang karang, fisik tubuh khas orang-orang Afrika, terbesit dalam pikirannya, Siapa kelak yang akan menjadi istrinya? Orang Sudan juga kah? Tapi siapa? Atau orang Indonesia?Apakah mereka mau dengan fisik sepertinya?”
Ada suara yang seolah menjawab pertanyaannya, “Semua ada waktunya dan ada jodohnya masih-masing”. Iwan mencoba menenangkan sahabatnya. Iwan mengingatkan “Bahwa laki-laki yang baik akan mendapatkan wanita-wanita yang baik, begitu juga sebaliknya”[21] Hakim tersenyum seraya mengiyakan “Ana[22] yakin dengan janji Allah”. Iwan lalu memeluknya.
***
Waktu liburannya telah usai, saatnya konsentrasi untuk segera menyelesaikan S1. Enam bulan terakhir tahun itu menjadi hari-hari tersibuk selama kuliah di Madinah. Hakim mengerahkan semua tenaga untuk ujian S1 nya. Alhamdulillah hasilnya tidak sia-sia, Hakim memperoleh predikat mumtaz[23]. Mengetahui hal tersebut, Hakim langsung sujud syukur. Semua sahabat mengucapkan selamat padanya.
Malam harinya, Hakim menyusun rencana ke depan. Hakim berencana akan melanjutkan S2 di Universitas yang sama sembari mengamalkan ilmu yang sudah diperolehnya. Dia mengontak Syaikh Ahmad menyampaikan pesan bahwa dia sudah lulus S1 dan mohon do’a dari Syeikh untuk study S2 nya. Syeikh Ahmad senang mendapat info tersebut dan selalu mendo’akan Hakim selalu dalam rahmatNya. Selain itu Hakim juga curhat tentang keinginan untuk segera menikah, untuk itu dia minta Syeikh untuk membantunya. Syeikh Ahmad dengan senang hati akan membantunya dan akan segera menghubunginya kalau sudah menemukan calon buat Hakim.
Selain minta tolong ke Syeikh Ahmad, Hakim juga mnita tolong kepada sahabat-sahabatnya untuk membantu menggenapkan agamanya. Sahabatnya pun dengan senang hati akan membantu. Hakim merasa sudah memaksimalkan ikhtiarnya untuk menjemput jodoh, tinggal memperbanyak do’a dan menunggu takdir Allah.
***
Seminggu sebelum mulai kuliah S2nya Hakim jatuh sakit, badannya lemas, seolah tak bertenaga. Dia mencoba istirahat di asrama, namun badannya malah tambah lemah. Akhirnya dia putuskan untuk periksa ke rumah sakit Universitas. Dia menceritakan kondisinya kepada dokter bahwa bandannya lemah dan beberapa hari terakhir merasakan nyeri yang kadang muncul di dada sebelah kirinya. Dokter melakukan pemeriksaan untuk mendapatkan diagnosa yang tepat.
Setelah melalui bebrapa pemeriksaan dokter mendiagnosa kalau Hakim kena penyakit Aterosklerosis. Aterosklerosis diakibatkan oleh dinding arteri yang mengalami penebalan karena lemak, kolesterol dan buangan sel lainnya yang mengendap sehingga pasokan darah ke sel-sel otot mengalami penghambatan. Ateroskleroris bisa terjadi di seluruh bagian tubuh. Nah, bila terjadi pada dinding jantung maka akan disebut sebagai penyakit koroner atau penyakit jantung iskemik. Penyakit ini berlangsung menahun dan timbul banyak gangguan penyakit. Penyakit ini dimulai dari adanya lesi (jaringan yg tdk normal) dan retakan pembuluh darah khususnya karena ada tekanan kuat pada pembuluh jantung. Kemudian di tahap selanjutnya, tubuh akan berusaha memperbaiki retakan tersebut dengan menempatkan zat-zat lemak pada pembuluh darah. Nah, kemudian lambat-laun karena proses keretakan yang selalu berulang, pembulun jantung pun ditutupi oleh zat-zat lemak. Gejala awal penyakit ini adalah angina pektoris (ketidaknyamanan dada yang terjadi ketika ada suplai oksigen darah yang berkurang pada area otot jantung. )yang menyebabkan rasa nyeri di daerah jantung dan dada karena berkurangnya pasokan darah dalam jantung.[24]
Hakim kaget setelah mendengar penjelasan dokter. Dia merasa selama ini badannya sehat-sehat saja dan baru beberapa pekan terakhir dia merasakan sedikit nyeri di dada. Dokter mencoba menenangkan Hakim dengan memberi nasehat untuk banyak istirahat dan resep obat yang insya Allah bisa membantu pemulihannya.
Semangatnya untuk berta’aruf [25] hilang setelah dia tahu penyakitnya. Dia berdo’a minta yang terbaik dari Allah serta minta petunjuk bagaimana dia harus melaluinya. Semenjak dari dokter, Hakim mengurangi aktivitasnya, dia banyak berbaring ditempat tidur. Bahkan untuk sholat pun dia lakukan sambil berbaring. Hakim mengisi hari-harinya dengan banyak muroja’ah Al-Qur’an.
Menjelang masuk kuliah S2, Hakim sudah lebih sehat dibanding sebelumnya. Namun rasa nyeri kadang masih menghampiri dada sebelah kirinya. Kadang hal itu tak dirasakannya lagi karena sibuk dengan perkuliahan S2nya. Semangat belajarnya sangat luar biasa. Kecerdasan otaknya sungguh merupakan anugerahNya yang tidak ada di setiap orang.
Tahun pertama di program S2nya diselesaikan dengan hasil yang sangat memuaskan. Semua dosen dan temannya memberikan pujian atas hasil yang diperolehnya. Waktu liburan musim panas tiba, saatnya dia akan silaturahim ke Indonesia. Dia berencana akan memberi surprise kepada sahabat-sahabatnya yang di Indonesia. Tapi ternyata dia harus balik ke rumah sakit lagi, serangan rasa nyeri di dada kirinya kembali terasa. Kali ini dia sampai di rawat di RS karena kondisinya semakin lemah.
Mulutnya dia penuhi dengan istiqfar, memohon pada Nya atas semua khilaf yang sudah dilakukan baik yang sengaja maupun yang tidak dia sengaja. Sambil berkomat-kamit istiqfar, dia teringat akan email yang pernah dikirim ke Farida, adiknya Iwan. Dan juga dia ingat akhwat yang dikenalkan Syeikh Ahmad kepadanya seminggu yang lalu. Tiba-tiba air matanya mengalir, dengan kondisi sakit yang dia rasakan, dia tidak tega untuk ta’aruf dengan siapapun. Dia tidak tau takdir yang akan Allah tetapkan pada nya.
Tangannya meraih laptop yang ada di meja samping tempat tidurnya. Dia membuka email, ada beberapa email baru masuk, termasuk dari Farida dan Syeikh Ahmad. Dia buka yang dari Farida terlebih dahulu. Sebelumnya Hakim mengemail Farida yang isinya bahwa dia ingin melamarnya dan mengajukan satu syarat supaya Farida memakai jilbab kalau menerima lamarannya. Sejak pertama kali bertemu Farida, Romadhon tahun lalu Hakim langsung terpanah hatinya. Bayangannya sering muncul disaat-saat yang tidak diduga, Hakim ingat keramahannya, kebaikannya, kesopanannya, dan kelembutannya. Farida merupakan potret wanita Jawa asli dan entah bagaimana Hakim bisa tertarik padanya. Namun dengan kondisi sakit yang semakin parah tersebut membuat Hakim berat untuk melanjutkannya. Jawaban email dari Farida membuatnya sedikit tenang. Farida belum menjawab perihal lamarannya, dia ingin mengenal Hakim terlebih dahulu. Dalam hati Hakim berharap Farida tidak menerima lamarannya. Dalam kondisi sakit dia justru ingin sendiri, tidak ingin merepotkan banyak orang atas penyakit yang dideritanya, dia ingin lebih dekat denganNya
Lalu Hakim membuka Email dari Syaikh Ahmad. Di email tersebut menyebutkan bahwa ada lampiran biodata akhwat yang sudah siap menikah. Tanpa membuka lampiran emailnya, Hakim langsung menjelaskan kondisinya kepada Syeikh Ahmad. Beliau minta saran yang terbaik baginya. Selesai mengirim email, rasa nyeri yang luar biasa datang lagi. Rasa nyeri tersebut samapi tak tertahankan, Hakim jatuh pingsan.
***
Iwan tanpa memberi kabar tiba-tiba datang ke Madinah, tujuannya untuk mengambil beberapa buku yang masih di titipkan di Hakim. Mengetahui Hakim di rawat di RS, Iwan langsung membesuk. Sampai di RS kondisi Hakim lagi kritis. Dokter dan perawat datang memeriksa lalu mengechek detak jantungnya. Detak jatungnya lemah. Tak lama kemudian dokter memanggil Iwan ke ruangannya. Dokter menjelaskan kalau Hakim sebaiknya di rawat di ICU supaya semuanya terkontrol dengan peralatan yang lebih lengkap. Iwan meminta waktu untuk menjawabnya, dia akan menyampaikannya ke Hakim terlebih dahulu. Sesampainya di kamar, Hakim sudah sadar, namun mukanya sangat pucat. Hakim kaget ada Iwan di sampingnya. Iwan mencoba menjelaskan kedatangannya ke Madinah. Hakim tersenyum lalu dia minta Iwan untuk mengambilkan laptopnya. Iwan tidak bisa menolak. Dia melihat Hakim langsung dengan lincah mengetik di atas keyboard. Iwan tidak tahu apa yang dituliskannya. Setelah selesai mengetik, dia minta minum lalu mematikan laptopnya. Iwan menyampaikan pesan dokter, Hakim hanya mengangguk. Perawat dengan sigap langsung membawanya ke ICU. Peralatan langsung di pasang. Oksigen, monitor jantung dan peralatan yang lain langsung menyala. Hakim terlihat lebih tenang dan Iwan menunggu disampingnya. Nggak lama kemudian Hakim memanggil Iwan, “Iwan…Ana mintaa maaf kalau selama ini ada khilaf dan sampaikan maaf Ana ke Farida, Ana titip oleh-oleh buat Farida yang Ana taruh di meja kamar. Sampaikan juga maaf kepada para dosen dan teman-teman ya…” Imam hanya sanggup mengangguk dan merasakan akan kehilangan sahabatnya. Lalu keluar lafadz “Laa illa ha illaallah..” dari mulut Hakim. Itu kalimat terakhir yang keluar dari mulutnya. Iwan langsung mengucap “Innalillahi wa inna ilahi roojiun”. Iwan langsung membernarkan posisi tangan dan menutup matanya dengan sempurna. Tangis Iwan pecah, dia balik ke Madinah ditakdirkan untuk menyaksikan sahabatnya menghadap Sang Pencipta. “Bidadari surga telah menunggumu Sobat…menjadi pengantin abadi di surgaNya Insya Allah”.
[1] Saya
[2] Kamu
[3] "Ya Allah, ampunilah dosanya, berilah rahmatMu ke atasnya, sejahtera dan maafkanlahnya."
[4] Menghafal
[5] Tempat belajar dan menghafal Al-Qur’an
[6] Setelah
[7] Mengulang kembali hafalan
[8] Penghafal Qur’an
[9] HR. Muslim no.1631
[10] H.R. Thabrani
[11] Membimbing mengucap kalimat Tauhid
[12] Tiada Tuhan selain Allah
[13] Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah dan kepada Allah jugalah kami kembali
[14] Sholat sunnah dua rokaat ketika masuk masjid
[15] Keinginan kuat
[16] Lulus sempurna
[17] HR. Ahmad dan Ibnu Majah no. 1406, dari Jabir bin ‘Abdillah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 1173.
[18] Nikmat Tuhanmu yang mana engkau dustakan?
[19] Sebutan untuk guide umroh atau haji
[20] melamar
[21] Q.S Annur:26
[22] saya
[23] Sangat baik sekali
[24] Sumber: http://kesehatan96.blogspot.com/2013/04/macam-macam-penyakit-jantung.html#ixzz3sIUr7ZAo
[25] Berkenalan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar