Jumat, 27 November 2015
I'm Not Your Valentine
“Your plane has been cancelled. I will transfer you to a long distance train.”[1]
“How long does it take from here to Berlin by train?”[2]
“Four to five hours. And the train will leave in 30 minutes.”[3]
“That’s bad.”[4]
Bhara sedikit kecewa mendengar penjelasan petugas dari Lufthansa[5], tetapi apa boleh buat, cuaca buruk yang menyebabkan penerbangan Frankfurt-Berlin dibatalkan dua jam sebelum keberangkatan. Meski musim dingin sudah masuk bulan terakhir, Februari, salju kadang masih turun. Bhara langsung menarik tangan Rizura untuk mengikuti langkahnya menuju peron Long Distance Train[6] dan mendapati lorong-lorong yang dingin dan sepi. Rizura mencoba melepaskan tangannya, namun Bhara tetap menggenggamnya dengan erat sambil berlari kecil, sambil bergumam “ Sorry..kita harus cepat Rizura..kalau nggak kita bisa ketinggalan kereta”. Rizura kesal dengan tingkah Bhara yang tiba-tiba diluar kontrol seperti itu. Mereka harus naik kereta tujuan Frankfurt Main Stadion sebelum akhirnya berganti kereta Inter City Express[7] (ICE) menuju stasiun Hauptbahnhof [8]di Berlin.
Di dalam kereta Rizura menjelaskan pada Bhara bahwa dia tidak suka dengan tindakannya. Dia menjelaskan bahwa hal tersebut tidak boleh dilakukan orang yang bukan mahramnya. Dia menambahkan penjelasannya bahwa Rasulullah mengajarkan demikian,
“Aisyah Radhiyallahu anhuma mengatakan, bahwa tangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah bersentuhan dengan kulit telapak tangan wanita lain yang bukan mahram. Bahkan tetap merasa tidak perlu berjabat tangan pada sebuah prosesi yang sangat krusial, yakni baiat (sumpah dan janji setia pada pemimpin) sekalipun.”[9]
“Begitu mulianya ajaranNya, jadi tolong hargai aku agar tetap bisa menjalankan ajaranNya”
“Baik, saya minta maaf, saya berjanji tidak akan mengulangi lagi. Tolong ingatkan saya.”
*****
Mereka ke Berlin dalam rangka memenuhi undangan paman Benn, adik kandung dari Abinya Bhara sekaligus dosen Rizura ketika kuliah di Wales, U.K. Paman Benn sudah menunggu mereka di ruang tunggu Hauptbahnhof. Tak lama kemudian terlihat mereka berdua keluar dari pintu kedatangan, paman Benn langsung menghampiri mereka. Bhara langsung memeluk pamannya dengan erat, sedangkan Rizura menelungkupkan kedua tangan di depan dada sembari memberi salam.
“Kamu makin cantik saja Rizura”
“Paman bisa aja, Alhamdulillah”
“Hayuk kita menuju mobil, ngobrolnya kita lanjutkan di rumah”
Mereka berdua mengikuti langkan paman Benn menuju parkiran. Membutuhkan waktu sepuluh menit untuk sampai ke rumah Paman Benn. Sepanjang mata memandang terlihat putih, tertutup salju. Saat itu bulan February, akhir dari musin dingin, namun masih ada salju yang turun. Bibi Alen, istri paman Benn sudah menunggu di ruang tamu. Bibi Alen terlihat hangat menyambut kedatangan mereka, Bhara dan Rizura langsung dipeluk bergantian. Eggy dan acid, anak paman Benn dan bibi Alen ikut menyambutnya
“Willkommen in Berlin Bhara und Rizura”[10]
“Danke”[11]
Mereka saling bersalaman dan terlihat bersahabat, meski mereka baru pertama kali bertemu dengan Rizura. Paman Benn mempersilahkan mereka duduk, Eggy dan Acid ke belakang menyiapkan minuman dan snack. Paman Benn dan bibi Alen menanyakan bagaimana mereka bisa kenal. “Kalian satu kantor di Frankfurt?”
Rizura langsung menjelaskan bahwa mereka satu departemen di Deutsche Kommunikation[12]. Rizura baru satu tahun bekerja di perusahaan tersebut, yang sebelumnya dia pernah magang selama musim dingin dua tahun sebelumnya. Saat itu Bhara jadi supervisor di departemen SQA (Service Quality Assurance). Keadaan tersebut awal mereka saling kenal dan berlanjut hingga sekarang. “Wah..wah…perkenalan yang menyenangkan!”, seru bibi Alen.
Bhara dan Rizura hanya senyum-senyum. Eggy dan Acid datang membawa teh jahe hangat dan wurst[13]. Hidangan yang cocok di musim dingin. Tanpa menunggu aba-aba dari tuan rumah, Bhara langsung menyantapnya. Rizura memandang bibi Alen yang menganggukan kepala sembari senyum, tanda mempersilahkan. Beberapa saat sausana ruang tamu hening. Acid memecah keheningan dengan bertanya kepada Rizura,“Wie lange Sie in Berlin bleiben?”[14] “Wir planen, für drei Tage zu bleiben”[15], jawab Rizura. Paman Benn langsung menimpali, “Es könnte mehr sein”[16]. “Recht Yup..that ist”[17], Bhara membenarkan ucapan paman Benn. Rizura langsung batuk, tersedak wurst yang sedang dikunyahnya. Mukanya memerah tampak kesulitan mengatur nafas dan mencoba menelan.
“Nggak apa-apa Rizura,,anggap saja kami orang tua kalian di sini, jadi mau tinggal lebih lama nggak masalah, bahkan kalau mau tinggal di sini selamanya juga okay.” Apa yang bibi Alen katakan membuat Rizura tambah kaget. Untuk menutupinya Rizura hanya bilang trimakasih dan mengatakan kalau dia masih banyak pekerjaan di Franfurt. “Saya izinkan kamu liburan seminggu di sini”, tambah Bhara. Rizura mencoba menyampaikan alasannya, tetapi selalu disanggah oleh Bhara, yang intinya kerjaan bisa dilakukan dari Berlin via email.
Rizura nggak bisa mengelak, selaku staff hanya bisa nurut dengan atasannya kalau sudah terkait pekerjaan. Keluarga paman Benn senang mendengar mereka akan tinggal seminggu di Berlin. Mereka akan mengajak jalan-jalan atau hanya sekedar berbincang di rumah. Paman Benn mempersilakan mereka istirahat. Eggy dan Acid membantu mereka membawa tas dan menunjukkan kamar mereka.
*****
Ada pesan masuk ke hand phone Rizura, “Ri,,kamu tenang saja urusan cuti libur aku yang atur. Kita nikmati liburan ini. Nanti siang aku ajak kamu jalan-jalan untuk melihat tempat wisata Berlin.” Rizura mencoba menenangkan diri dengan menarik nafas panjang dan tetap istiqfar dalam hati, “Robb..bantu aku menghadapinya..ampuni aku..aku akui aku salah menerima ajakannya ke tempat ini”. Setelah lama nggak ada balasan pesan dari Rizura, Bhara menelphone. Rizura ragu untuk mengangkat, karena belum tau harus berbicara apa. Deringan dibiarkan sampe habis. Nggak lama kemudia ketukan pintu terdengar, tambah bingung Rizura menghadapinya. “Ya Allah…ampuni aku..bantu aku..bantu aku..”, lirin Rizura.
“Knock..knock..Assalamu’alaikum..Ri..Ri..”
Sampai dua kali Bhara menggulang mengetuk pintu. Rizura nggak enak dengan Eggy dan Acid kalau sampai terdengar mereka, yang kamarnya disebelah. Dengan Bismillah Rizura membuka pintu.
“Kamu sakit Ri? Koq muka kamu pucat gitu, mata kamu sembab.”
Tanpa disuruh masuk, Bhara langsung menyelonong masuk kamar Rizura, duduk di kursi sudut kamar.
“Sorry..kita bicara di ruang tamu saja”
“Di ruang tamu dingin, Heizung[18] nya rusak”
Rizura mati gaya, bingung mau ngomong apa. Sedangkan Bhara duduk santai seolah tanpa dosa. Bahkan dia minta Rizura untuk menutup pintu kamarnya supaya udara dingin tidak masuk.
“Sekali lagi sorry Bhara…biarkan pintu tetap terbuka. Kita ini bukan mahram nggak boleh berduan di tempat sepi. Nanti bisa jadi fitnah”
“Aku akan jadikan kamu mahram ku”
Glek..hati Rizura bagai kesambar petir.
“Bukan begitu maksudku Bhara,,tolong kamu ngerti donk..”
“Aku ngerti Ri…apa maksudku belum jelas?” “Will you be my valentine?”
“Maaf saya tidak merayakan hari valentine, jadi kamu salah orang”
Bhara mengklarifikasi pernyataannya, bahwa maksudnya adalah mau menjadikan Rizura istrinya. Karena momennya valentine, Bhara keceplosan mengucapkannya. Padahal sebenarnya dia tahu kalau Rizura nggak setuju Valentine Day, begitu pula dirinya. Tapi belum sempat menjelaskan, Rizura langsung bicara panjang lebar tentang Valentine.
“Valentine Day bukan ajaran agama Islama. Melainkan syiar agama Nasrani. Bahkan kalau mau dirunut ke belakang, sejarahnya berasal dari upacara ritual agama Romawi kuno. Adalah Paus Gelasius I pada tahun 496 M yang memasukkan upacara ritual Romawi kuno ke dalam agama Nasrani, sehingga sejak itu secara resmi agama Nasrani memiliki hari raya baru yang bernama Valentine’s Day. The Encyclopedia Britania, vol. 12, sub judul: Chistianity, menuliskan penjelasan sebagai berikut: “Agar lebih mendekatkan lagi kepada ajaran Kristen, pada 496 M Paus Gelasius I menjadikan upacara Romawi Kuno ini menjadi hari perayaan gereja dengan nama Saint Valentine’s Day untuk menghormati St. Valentine yang kebetulan mati pada 14 Februari . Jadi jangan mengikuti apa yang bukan ajaran agama kita, supaya kita tidak termasuk dalam golongannya. “
Katakanlah: Hai orang-orang non muslim. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang Aku sembah. Dan Aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah menjadi penyembah Tuhan yang Aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.[19]
“Okay..okay..aku minta maaf. Janji tidak akan mengulangi lagi.”
“Please keep your promise!”
“Insya Allah”. Ayo kita sarapan dulu!”
Rizura hanya mengangguk dan mengikuti turun ke dapur.
“Paman Benn dan keluarganya tadi pagi-pagi sudah pergi, mendadak ada urusan. Bibi Alen sudah berpesan kepadaku kalau sudah disiapin sarapan di kulkas tinggal manasin aja”
“Eggy dan Acid ikut juga?”
“Yup”
“Kalau gitu aku sarapan di kamar saja”
“Ri…please…kenapa sich selalu menghindar?”
“Aku sudah menjelaskan ke kamu Bhara, jadi tolong aku nggak perlu ngulang lagi!”
“Tapi please..untuk kali ini saja…ada yang mau aku sampaikan ke kamu.”
“Sorry Bhara…aku ngak bisa!”
Setelah mengambil sarapan Rizura langsung ke kamar. Bhara hanya bisa pasrah melihatnya naik tangga.
*****
Paman Benn dan keluarga berkunjung ke apartemen yang tidak jauh dari rumah. Di sana paman Benn bertemu dengan seseorang yang sudah paruh baya beserta istrinya untuk membicarakan rencana Bhara. Paman Benn mencoba menceritakan apa yang terjadi pada Bhara. “Sejak pertama kenal dengan Rizura, Bhara sudah mulai jatuh hati. Saat itu Rizura sedang magang di Deutsche Kommunication dua tahun yang lalu. Apa yang membuat Bhara begitu tertarik dengan Rizura yaitu agama, kecantikan dan juga kecerdasannya. Dia merasa bertemu dengan malaikat yang selalu mengingatkan akan nasehat-nasehat Abi dan Mommy nya. Kata-kata, prilaku dan cara berpikir Rizura membuat Bhara terpesona. Bhara merasa menemukan oase[20] di padang pasir. Dulu sebelum dia SMA, ada Abi dan Mommy yang selalu mengingatkan untuk sholat berjamaah di masjid, tilawah, sedekah dll. Setelah dia SMA di U.K. hidupnya hambar, kosong, meski secara akademis dia selalu menjadi yang terbaik”. Tak terasa air mata paman Benn menetes, dia merasa bersalah tidak bisa menjadi orang tua asuh yang benar. Dia hanya sekedar memenuhi kebutuhan materi Bhara, tanpa pernah bertanya apa yang dia rasakan.
“Kamu tak perlu menangis Benn, ini bukan salah kamu, ini salah kami yang terlalu semangat mengirim anaknya sekolah ke luar negri”,lirih pria paruh baya
“Apa sekarang Rizura ada di rumahmu Benn?”, tanya wanita paruh baya.
“Iya mbak...dia sekarang ada di rumah kami.”, jawab paman Benn
“Coba kamu pelan-pelan ngobrol sama anak itu, kira-kira dia suka nggak dengan Bhara.”,lanjut wanita paruh baya
“Baik Mb...nanti malam saya akan coba”, jawab bibi Alen.
*****
Rizura video call dengan ortunya di Jakarta. Rizura menceritakan banyak hal, termasuk kondisinya sekarang yang lagi dia alami. Abi dan Umminya langsung mengetinterogasi. Bertubi-tubi pertanyaan mereka lontarkan. Rizura dengan sabar menjawab pertanyaan satu-satu.
“Bahara itu supervisorku[21] di kantor Bi,,Mi,,. Nah kenapa saya bisa sampai ke Berlin, dia mendapat undangan dari Pamannya untuk silaturahim ke Berlin, nah kebetulan Paman itu dosenku waktu di Wales U.K. Nah saya pikir sekalian silaturahim ke Beliau, tapi kondisinya lain, saya kurang nyaman dengan tingkah Bhara yang tiba-tiba bilang “Will you be my valentine?”[22], dan tadi pagi dia ngandeng tanganku, alasannya buru-buru ngejar kereta. Nah..gitu singkat ceritanya Bi..Mi..
“Gimana karakter Bhara di kantor?”, tanya umminya Rizura
“Kalau di kantor sich berwibawa, dan nggak neko-neko Mi..baru kali ini lah aku tahu dia seperti ini.
“Dia suka sama kamu Nak..
“Ummi…jangan katakana itu…aku nggak mau…”
“Yakin kamu nggak ada rasa padanya?”
“Rasa apa Mi?
“Tertarik maksud Ummi..”
“Ehm..kalau sebelum kejadian ini sich sempat kagum, dia pandai, ganteng dan aku sering lihat dia sholat di ruangannya. Bertanggung jawab dan berani ambil resiko. Gitu Mi..”
Abinya memotong pembicaraan, “Namanya Bhara siapa Nak?”
“Yudha Bhara Bi…”
“Oh jadi Bhara itu nama ayahnya?”
“Iya..dia pernah cerita tentang itu”. “Abi…dari tingkahnya tadi saja aku sudah illfeel Bi…!”
“Mungkin ilmu tentang itu belum sampai padanya Nak..buktinya dia rajin sholat kan?”
Rizura hanya bisa diam, merenungkan apa yang Abinya katakan.
“Sudah dulu Nak,,, kita lanjutkan besok ya..Abi sama Ummi mau sholat subuh dulu”
“Baik Bi..Mi..Assalamu’alaikum…”
“Waalaikumsalam Wr.Wb”
Rizura merenungkan apa yang dikatakan Abi dan Umminya. Pikirannya flashback ketika pertama kali bertemu Bhara. Dua tahun lalu saat Rizura datang untuk magang di perusahaannya, pertama kali yang dia temui adalah Yudha Bhara, Supervisor SQA Deutsche Kommunication. Saat itu Rizura datang paling pagi, sambil menunggu teman yang lain dia duduk di kursi lobby[23]. Disampingnya ada beberapa cewek yang mencoba menggoda Bhara dengan memanggil-manggil namanya ketika dia melintas lobby menuju lift. Bhara tetap berjalan seolah-olah tidak mendengar apa-apa. Beberapa menit kemudia ada beberapa temen yang sudah datang, kami menuju ruangan Yudha Bhara. Dia menyambut dengan hangat dan menjelaskan apa saja yang harus kami kerjakan. Setiap dari kami mendapat tugas yang berbeda. Dia banyak berdiskusi dengan Bhara. Dia sosok pemimpin yang baik, selalu menanyakan bagaimana pekerjaan para pegawainya. Dia selalu mengevaluasi pekerjaan dan memberi penjelasan ketika diperlukan.
Hal yang membuat Rizura kagum ketika pertama kali melihatnya sholat Dhuha di ruangannya. Ternyata ada supervisor yang menyempatkan Dhuha di ruangan kantornya. Suatu ketika pernah ada pekerjaan malem di site Frankfurt, yaitu mengontrol dan memonitoring perubahan frekuensi yang dilakukan oleh vendor[24], pekerjaan ini hanya bisa dilakukan pada malam hari, supaya tidak mengganggu traffic[25] komunikasi pelanggan. Jadi mau nggak mau Rizura harus begadang di kantor. Sesekali OB nanyain apa ada yang bisa dibantu tapi Rizura manjawab nggak ada. Kalau Cuma untuk membuat kopi dia biasa melakukan sendiri. Masih ada dua jam untuk mantengin laptop, tapi matanya nggak bisa diajak kompromi. Dia tertidur di meja kerjanya. Bangun-bangun dia kaget karena laptopnya sudah berpindah tempat di meja depannya dan ada seseorang. Rizura kaget bukan main, ternyata di depannya ada Bhara. Buru-buru dia lihat jam tangannya, dia tertidur 2,5 jam, itu artinya waktu eksekusi perpindahan frekuensi sudah selesai. Langsung dia minta maaf kepada Bhara atas kelalaiannya, dia segera ambil laptop yang di depan Bhara. Dia menemukan kalau pekerjaannya sudah selesai 30 menit yang lalu. Dia malu, baru menyadari kalau yang menyelesaikan monitoring dan laporan perpindahan frekuensi dikerjakan dengan rapi oleh Bhara. Dia mengulangi permintaan maafnya dan mengucapkan banyak trimaksih. Bhara hanya menjawab sama-sama lalu mengajaknya pulang. Rizura menolak, dia mau pulang dengan driver saja. Bhara memberitahu kalau driver maximal standby sampai jam kerja lembur dan malam itu sudah lebih satu jam. Rizura mau coba telephone naik taxi, tapi lagi-lagi Bhara menjelaskan kalau naik taxi larut malam berbahaya bagi perempuan, Bhara bergumam “kalau terjadi apa-apa bagaimana saya bertanggung jawab kepada orang tuamu”. Rizura merasa diperhatikan, tapi dia segera membuang jauh-jauh. Hal itu dilakukan Bhara karena dia pimpinannya, tidak lebih dari itu.
Ingatan Rizura teringat nasehat Bhara ketika akhir waktu magang. Pesannya supaya berhati-hati berada di negri orang, apalagi perempuan. Harus selektif dalam milih teman, terutama memilih teman laki-laki. Laki-laki yang baik hanyak akan mengajakmu jalan ketika dia mau serius denganmu. Ingatan Rizura berhenti, dia mengulang memory itu. Pada memory itu dia ingat kondisi dia saat ini. Dia diajak Bhara untuk silaturahim ke Berlin. Dia ingat juga apa yang dikatakan umminya “Dia suka sama kamu Nak..”
*****
Ketika mendengar kata Bhara, abinya Rizura jadi ingat nama seseorang. Dia mencoba mengingat wajah pemilik nama tersebut. Tiba-tiba memorynya tersangkut saat tugas di Palembang, Sumatera Selatan. Akhirnya wajah yang punya nama Bhara terlintas dalam benaknya. Dia langsung mencari di kontak HP nya, alhasil muncul nama Bhara Wira Kusuma Project. Saat itu Beliau menjadi Manajer Project, sedangkan abinya Rizura Manajer NSA (Network Service Area) di perusahaan yang sama yaitu Telekomunikasi Swasta di Indonesia. Mereka pernah tinggal satu rumah, kebetulan pangkat manajer mendapat jatah sewa rumah tiap tahun. Namun karena sama-sama keluarga tinggal di pulau Jawa, akhirnya menyewa hanya satu rumah untuk bertiga, satu lagi manajer RPA (Resource Performance Assurance). Untuk menjawab penasarannya, Abinya Rizura mencoba menelphone. Tak lama kemudia terdengar suara salam, dan ternyata nomer abinya Rizura juga masih tersimpan dalam phonebook Pak Bhara Wira Kusuma. Dua-duanya surprise, Pak Bhara langsung menyapa “Assalamu’alaikum Pak Iwan? Apa yang bisa saya bantu?”
“Wa’alaikumsalam…Pak Bhara..bagaimana kabarnya..”, jawab abinya Rizura.
Percakap berlangsung seru, dua sahabat lama yang bertemu kembali. Abinya Rizura langsung menanyakan apakah Beliau punya anak yang namanya Yudha Bhara yang sedang kerja di Frakfurt. Penasarannya terjawab sudah, ternyata benar kalau Bhara anak dari sahabat lamanya. Akhirnya Abinya Rizura menceritakan kalau anaknya itu temen sekantor Bhara. Abinya Bhara kaget ketika nama Rizura disebut. Sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Abinya Bhara langsung menyampaikan kisahnya Bhara dengan Rizura dan Beliau sedang di Jerman dalam rangka liburan sekaligus mau bertemu Rizura. Abinyanya Rizura berkali-kali mengucap Takbir. Inti dari perbincangan tersebut adalah kedua belah pihak senang bisa menyambung tali silaturahim, dan tambah senang lagi kalau kedua anaknya bisa bersatu dalam pernikahan. Abinya Rizura berjanji akan segera memberi jawaban setelah berbincang dengan anaknya. Keduanya sudah tidak sabar untuk besanan.
*****
Bibi Alen mengajak Rizura berbicara di kamarnya. Lalu keduanya berbincang santai, Rizura duduk di kasur dan bibi Alen duduk di kursi. Bibi Alen pelan-pelan menyampaikan keinginan Bhara. Kalau sebenarnya Bhara suka dengan Rizura dan berniat untuk menjadikannya istri. Bhara minta tolong bibi Alen, karena tidak ada waktu yang pas buat menyampaikan ke Rizura. Kalau diajak bicara berdua, Rizura selalu tidak mau. Hal yang membuat Bhara suka dengan Rizura, karena agamanya bagus, berjilbab, cerdas dan cantik. Pipi Rizura memerah mendengar cerita bibi Alen. Lalu bibi Alen membalikkan pertanyaan pada Rizura. Rizura diam, tapi dari sorot matanya terjawab kalau sebenarnya punya rasa yang sama dengan Bhara. Tapi jawaban yang keluar dari mulut Rizura, dia mau sholat istikhoroh dulu dan minta pendapat orang tuanya. Bibi Alen menganguk setuju lalu mengecup kening Rizura.
*****
Di kamar bawah, paman Benn dan Bhara lagi asyik melihat paket wedding di brosur yang tadi pagi dapet dari tetangga yang kebetulan lagi promo Wedding Organizer (WO). Bhara penasaran bagaimana hasil pembicaraan Rizura dengan Bibi Alen. Bibi Alen senyum-senyum dan memeluk Bhara sambil berbisik “Semoga dia jodohmu Nak, dia calon istri sholehah, dambaan para pria”. Bahara hanya bisa mnejawab “Aamiin…”.
*****
Di kamar Rizura langsung sholat Istikhoroh, minta petunjuk pada Robb semesta alam. Kalau Bhara baik buat dirirnya maka minta ditunjukkan jalannya, tapi jika Bhara bukan terbaik bagi dirinya mohon dijauhkan dengan baik-baik. Setelah berdo’a dan berdzikir Rizura ingat kebaikan-kebaikan Bhara, memprosentase kebaikan dan keburukannya. Ternyata berat dikebaikannya, keburukan Bhara hanya terjadi ketika perjalnan menuju Berlin dan kejadian Valentine. Sedangkan kebaikan Bhara terlihat dari awal kenal hingga di Bandara Frakfurt Am Main sebelum berangkat ke Berlin. Tak lupa Rizura minta pendapat ortunya, dia ceritakan apa yang bibi Alen sampaikan di kamarnya. Dan Umminya mencoba menjelaskan peristiwa Abinya menelphone Abinya Bhara. Tanpa disadari air mata Rizura meleleh.
“Insya Allah kami setuju Nak…tinggal kamu bagaimana?”
“Iya insya Allah Mi..Bi..”
Plong…rasanya batu yang berton-ton dipundak Rizura runtuh. Ummi dan Abbinya berkali-kali Takbir dan Tahmid.
“Alhamdulillah Nak…jadi Abi sampaikan ke Abinya Bhara ya berita bahagia ini”
“Iya silahkan Bi…untuk kedepannya Rizura manut Abi dan Ummi saja”
“Iya Nak…nanti kami bicarakan dengan orang tua Bhara”
*****
Kabar Bahagia ini sampe juga ke Bhara kalau Rizura menerimanya dan akad nikah akan dilaksanakan segera, bertempat di Rumah Paman Benn di Berlin. Namun Bhara hanya tahu infonya sebatas itu. Tentang ortu mereka temen lama, mereka mau datang ke Berlin itu semua off the record[26].
Malam itu juga paman Benn ditemani bibi Alen mengumpulkan Bhara dan Rizura di ruang tamu. Paman Benn menyampaikan pesan ortu Bhara kalau pihak kedua orang tua sudah saling setuju bahkan sangat mendukung dan selalu mendo’akan pernikahan yang penuh keberkahan. Akad nikah sebaiknya dilakukan segera. Untuk resepsi nanti dilakukan di Indonesia ketika liburan musim panas. Dan malam itu juga disepakati kalau Akad nikah akan dilakukan hari Jum’at setelah sholat ashar. Itu berarti tiga hari lagi.
*****
H-1 semua sudah siap. Rizura mneyempatkan video call dengan ortunya untuk meminta maaf dan mohon do’a restu. Air matanya tak bisa ditahan, dia sedih, di hari spesia ortu tidak ada di sisinya, bahkan diadakan bukan di rumahnya. Abi dan Umminya mencoba menjelaskan yang terpenting adalah Ijab Qobulnya, mau dimanapun kalau rukun dan syarat akad terpenuhi itu sudah sah. Rizura mencoba tegar dan menenangkan hatinya.
Setelah video call dengan ortunya selesai, banyak pesan yang masuk dari temen-temen sekantor. Mereka kaget dengan undangan yang kirim Bhara, bahkan tidak menyangka kalau ternyata Bhara dan Rizura liburan bareng dan berakhir akad nikah. Intinya mereka mengucapkan “glücklich Hochzeit”. Rizura tersenyum membaca pesan dari temen-temennya, begitu juga sang pangeran calon pengantin di kamar sebelah. Rizura menjawab pesan-pesan tersebut dengan ucapan trimaksh dan mohon do’anya supaya akad nikahnya lancar dan mendapat keberkahan dari Allah SWT. Aamiin..
Nggak lama setelah itu ada pesan masuk
“Selamat istirahat Rizura, kita sama-sama berdo’a untuk akad kita besok. Saya minta maaf atas semua khilaf yang saya lakukan. Mohon bimbinganmu setelah kita nikah nanti ya. Saya insya Allah siap menjadi lebih baik. Would you marry me?” J
“Insya Allah” J Tommorrow I become your wife, not your valentine!!!
[1] Pesawat kamu ditunda. Saya akan mengganti dengan kereta?
[2] Berapa lama dari sini ke Berlin?
[3] Empat sampai lima jam, dan kereta akan berangkat 30 menit lagi
[4] Malangnya
[5] Maskapai penerbangan terbesar di Eropa
[6] Peron kereta jarak jauh
[7] Kereta jarak jauh, yang dapat melaju hingga 330km/jam
[8] Stasiun kereta utama
[9] HR. Al-Bukhari, 4891
[10] Selamat datang di Berlin Bhara dan Rizura
[11] Terimakasih
[12] Perusahaan komunikasi swasta
[13] Sosis khas Jerman
[14] Berapa lama kalian akan tinggal di Berlin?
[15] Kami rencana tinggal di sini tiga hari
[16] Bisa jadi lebih
[17] Ya benar
[18] Mesin pemanas ruangan
[19] QS. Al Kafirun
[20] Daerah subur terpencil
[21] Pimpinan departemen
[22] Maukah kamu jadi valentinku?
[23] Ruang peralihan, penghubung pintu masuk dengan ruangan lainnya
[24] Lembaga pihak ketiga untuk membantu meningkatkan kinerja sebuah perusahaan
[25] Jalur
[26] Rahasia
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar