Jumat, 27 November 2015

Siapa Bidadari yang Pantas Untuknya

Dua email telah terkirim, hal itu membuatnya lebih tenang. Dia berharap Farida dan Syeikh Ahmad bisa tulus memaafkannya.

Assalamu’alaikum Wr Wb

Ukhti…Ana[1] mohon maaf yang sebesar-besarnya kalau selama ini banyak khilaf yang Ana lakukan. Ana do’akan Ukhti bisa menjadi muslimah yang baik. Tetaplah bersemangat untuk belajar ilmu agama. Oia Ukhti…Ana titipkan Al-Qur’an oleh-oleh dari Madinah ke Kakak Anti[2]. Semoga bermanfaat ya…jangan lupa untuk selalu dibaca, supaya pahalanya mengalir ke Ana. Terimakasih Ukhti atas semuanya. Tetap semangat Ukhti…

Wassalamu’alaikum Wr Wb

Farida menangis ketika membaca email. Dia menemukan wasiat dari email itu. Dia berusaha akan melaksanakan wasiat tersebut. Di sisi Benua yang lain, Syeikh Ahmad juga sedang membaca email. Matanya basah dan berkali-kali mengucap "Allahumma firlahu warhamhu wa`afihi wa`fu`anhu".[3] “Bidadari telah menunggumu di SurgaNya Nak…”. Lirih Syaikh Ahmad.

***

Hakim merupakan sosok pemuda yang alim, disiplin, cerdas, dan kuat. Sejak usia lima tahun dia sudah mulai belajar tahfidz[4] di Ma’had Qur’an[5]. Dia Berangkat setiap pagi, ba’da[6] subuh dan pulang ba’da ashar. Sampai di rumah langsung berangkat untuk berjama’ah sholat marib di masjid bersama ayahnya . Ba’da Isya’ baru pulang ke rumah, lalu makan malam bersama. Selanjutnya Hakim dan dua adiknya langsung masuk kamar untuk tidur. Pagi jam tiga Hakim sudah dibangunkan oleh sang ayah untuk mandi dan menambah hafalannya dengan didampingi sang ayah. Tak lupa sang ibu selalu menyajikan madu dan susu untuk menjaga kesehatannya. Ba’da subuh ayahnya siap mengantar Hakim dengan mengendarai motor untuk muroja’ah[7] dan setor hafalan baru ke Syaikh Ahmad di Ma’had. Perjalanan yang ditempuh kurang lebih dua jam. Di sepanjang perjalanan Hakim memuroja’ah hafalannya dan sang ayah menyimaknya. Sungguh fenomena yang menkajubkan, Al-Qur’an di letakkan di depan ayahnya, sedangkan sang anak di belakang sambil mendekatkan mulutnya ke telinga sang ayah. Hal tersebut berlangsung sampai usia Hakim tujuh tahun.

Kegitan tahfidz Al-Qur’an yang menyenangkan, tidak hanya murojaah dan nambah hafalan, melainkan mereka juga bermain sebelum Dhuha dan tidur siang setelah makan siang di Ma’had tersebut. Para Masyaikh paham bagaimana cara mendidik anak-anak untuk menjadi hafidz[8] Qur’an. Dalam waktu dua tahun, Hakim bisa menyelesaikan program tahfidz 30 juz. Jadi pada usianya yang masih sangat belia, tujuh tahun, dia sudah menjadi Hafidz.

***

Konflik di Sudan membuatnya kehilangan kedua orang tua dan juga adiknya. Fase hidup yang sangat memilukan hatinya. Di usianya yang masih delapan tahun, dia harus menghadapi kenyataan tersebut. Kakek dari sang ayahnya lah yang akhirnya mengasuh Hakim. Meskipun begitu, Hakim sudah sangat mandiri di usia tersebut. Dia bisa bantu kakeknya untuk berjualan baju di pasar. Hal tersebut meneruskan usaha ayah dan juga ibunya. Dulu ayah dan ibunya sebagai penjual baju. Baju-baju dagangannya hasil jahitan ayahnya sendiri.

Setiap jam tiga pagi, Hakim bangun lalu mandi dan lanjut sholat. Sebelum subuh Hakim muroja’ah beberapa lembar Al-Qur’an, tidak lupa dia membuat susu dan madu untuk nya dan juga sang kakek. Dia bersama kakeknya selalu berjama’ah subuh di masjid. Sepulang dari masjid kakeknya membuat sarapan, sedangkan Hakim menyiapkan barang dagangan yang akan di jual di pasar. Hakim selalu menyempatkan muroja’ah di setiap waktu, bahkan ketika menunggu barang dagannya di pasar sekalipun. Kakeknya sangat bangga pada Hakim, kakeknya ingin melihat Hakim menjadi Ustadz yang bisa menyampaikan kandungan-kandungan Al-Qur’an yang sudah dihafalnya.

Ketika Hakim memasuki usia 12 tahun, sang kakek mendaftarkannya pada sebuah sekolah agama. Awalnya Hakim tidak mau, karena kalau sekolah dia tidak bisa bantu kakeknya berdagang. Namun setelah mendengar penjelasan sang kakek, bahwa ilmu itu sangat penting dan ilmu yang bermanfaat bisa menjadi amal jariyah bagi pengamalnya.

“Apabila seorang keturunan Adam meninggal dunia maka terputuslah amalnya kecuali dari tiga hal: shadaqah jariyyah, atau ilmu yang bermanfaat, atau seorang anak shalih yang mendo’akannya.”[9]

Kakeknya menambahkan lagi, bahwa dengan ilmu manusia bahagia di dunia hingga akhirat

“Barang siapa yang menghendaki kebahagiaan di dunia maka harus dengan ilmu, dan barang siapa menghendaki kebahagiaan akhirat maka harus dengan ilmu. Dan barang siapa yang menghendaki kebahagiaan keduanya (dunia dan akhirat) maka harus dengan ilmu”[10]

Tak terasa air matanya meleleh dan semangat untuk belajarnya menggelora. Dia langsung menerima tawaran kakeknya untuk bersekolah, namun dia mengajukan syarat kepada kakeknya, kalau kakeknya harus berhenti menjahit. Hakim yang akan menjahit sepulang atau sebelum berangkat sekolah, jadi kakeknya hanya menunggu dagangan di pasar. Hakim juga akan tetap membantu kakeknya membawa barang dagangannya ke pasar dan juga pulang dari pasar. Hakim tidak tega melihat kakeknya berdagang sendiri. Kakeknya setuju dan langsung memeluknya dengan erat. Kakeknya membayangkan betapa bangga orang tuanya menyaksikan kebaikan dan kelembutan anaknya. Sambil mengecup kepala Hakim dengan tulus, sang kakek berdo’a dalam hati “Ya Allah…jadikan anak ini anak sholeh mempunyai ilmu yang bermanfaat”

***

Di sekolah Hakim termasuk anak yang cepat menerima pelajaran, hasil belajarnya selalu memuaskan. Dia selalu lulus dengan nilai terbaik di setiap semesternya. Padahal kalau dilihat dari jam belajarnya, mungkin anak-anak yang lain punya waktu belajar yang lebih banyak. Sedangkan Hakim selain belajar, masih punya tanggung jawab lain. Dia belajar hanya satu jam dalam sehari, yaitu sebelum subuh tiba.

Tak terasa Hakim hampir menyelesaikan sekolah agamanya, dia berencana untuk melanjutkan kuliah di Islamic University of Madinah, Fakultas Qur’an dan Dirasat Islamiyah. Dia ingin mendalami Al-Qur’an yang sudah dihafalnya sejak umur tujuh tahun. Dia juga mendapat informasi kalau Universitas tersebut memberi beasiswa dari seluruh dunia yang lulus seleksi. Namun dia bimbang kalau harus meninggalkan kakeknya sendirian dengan kondisi kesehatannya yang kurang bagus beberapa bulan terakhir.

Hakim tidak menyampaikan keinginannya tersebut kepada sang kakek. Dia hanya mencurahkan keinginanya tersebut kepada Allah, ketika selesai sholat. Dia minta yang terbaik dari Nya, kalau kuliah di Madinah bukan yang terbaik, maka dia ikhlas menerimanya. Dia berencana kalau sudah lulus dari sekolahnya, dia akan mencoba mengamalkan ilmunya dengan mengajak anak-anak disekitar rumahnya untuk belajar menghafal Qur’an. Dan dia tetap bisa membantu kakeknya berdagang.

Suatu malam, menjelang pukul tiga dini hari kakeknya batuk hebat, Hakim langsung bangun menuju kamar sang kakek. Dia dapati kakeknya duduk bersila di atas sajadah sambil tangannya memegang dada. Batuknya tidak kunjung berhenti, Hakim mencoba mengambilkan minum, namun batuknya tetap saja berulang. Dan yang membuat Hakim khawatir, batuknya disertai darah. Kakeknya tetap tenang sambil berucap “Saya tidak apa-apa Nak…kamu sholat dulu sana”. Hakim hanya bisa mengangguk, lalu beranjak untuk mandi dan sholat.

Hakim larut dalam do’a panjangnya minta pada Allah SWT untuk kesembuhan sang kakek. Dia ingat perjalanan hidup bersama sang kakek selama tuju tahun. Tidak ada memory buruk yang terkenang, semua baik. Kebaikan, kelembutan, serta ketulusan sang kakek membuat Hakim tumbuh menjadi pemuda yang tangguh. Memorynya terputrus dengan suara batuk yang terdengar dari kamar sang kakek, Hakim langsung lari menujunya. Dia dapati darah mengalir dari mulutnya serta baju putihnya yang penuh noda merah. Posisi sang kakek sudah terlentang, Hakim memangku bagian kepalanya dan terdengar bisikan dari mulut sang kakek, “Nak…kamu harus jadi anak yang sholeh, banggakan kedua orangtuamu di Surga, dan nanti kita ketemu lagi di sana insya Allah”. Hakim hanya mengangguk dan lirih mengucap “Insya Allah Kek”. Air mata Hakim mengalir deras, namun dia segera ingat bahwa dia harus mentalqin[11] kakeknya. “La ilaha illallah[12]… La ilaha illallah… La ilaha illallah” sambil mendekatkan ke telinga kakeknya. Sang kakek tersenyum mendengarnya lalu berbisik “Kamu anak yang pandai Nak…” dan mengikuti Hakim melafalkan “La ilaha illallah”. Hakim mentalqin sambil berurai air mata, kakenya mengikutinya sambil mengusap airmata Hakim, seolah berkata “Kamu jangan nangis Nak…nanti kita bertemu lagi”. Nafas sang kakek mulai memendek, Hakim tak putus mentalqinnya. Senyum sang kakek mengembang bagai ketemu dengan pujaan hati. Dan senyum itu tetap menghiasi wajahnya meski sudah tidak bernafas lagi. “Inna lillahi wa inna ilaihi rooji’un”[13], lirih Hakim. Hakim melihat jam, 10 menit menjelang subuh. Hakim memejamkan mata sang kakek dan membenarkan posisinya. Lalu dia bangkit menuju masjid untuk adzan subuh, sepanjang jalan menuju masjid tak putus dia mendo’akan sang kakek khusnul khotimah.

Usai sholat berjama’ah, dia memberitahu kepada para jama’ah sholat subuh kalau kakeknya meninggal dunia. Seluruh jama’ah mengucap “Inna lillahi wa inna ilaihi rooji’un”. Lalu para jama’ah membantu pengurusan jenazah sang kakek hingga menguburkannya.

***

Satu tahun lagi Hakim lulus dari sekolah agamanya. Selain sekolah, Hakim juga masih menjahit dan juga berdagang pakaian. Ketika dia harus sekolah, dia menitipkan dagangannya ke pedangang di samping kiosnya, paman Karim, Hakim memanggilnya. Paman Karim itu teman dekat kedua orang tua Hakim sejak berdagang di pasar dulu, jadi hubungan mereka sudah sangat dekat. Paman Karim dengan senang hati membantu Hakim. Sebenarnya paman Karim menyuruhnya untuk tinggal dirumahnya dan akan menganggapnya seperti anak sendiri. Bahkan paman Karim melarangnya untuk berdagang, biar fokus belajar. Dan bersedia membiayai sekolah sekaligus hidupnya. Namun Hakim menolaknya, dengan alasan ingin hidup mandiri.

Keinginannya untuk belajar di Madinah kembali datang menghampiri pikirannya. Dia teringat Syaikh Ahmad. Hakim mengagendakan untuk silaturahim ke Syaikh Ahmad dan minta pendapatnya, terkait keinginannya tersebut.

Hari Jum’at sore Hakim tiba di Ma’had, Syaikh Ahmad langsung menyambutnya dengan hangat. Mereka saling berpelukan erat, bagai ayah dan anak yang lama tidak berjumpa. Mereka saling bercerita tentang kehidupannya masing-masing, Syaikh Ahmad sedih ketika mendengar cerita Hakim, dan berlirih “Innalillahi wa inna ilaihi rooji’un.”“Allahummaghfir lahum warhamhum, wa ‘aafihi wa’fu ‘anhum”. “Jangan lupa untuk terus mendo’akan mereka”, lanjut Syaikh Ahmad. Hakim mengangguk, dan lirih mengucap “Insya Allah”.

Setelah Syaikh Ahmad selesai memberi nasehat, Hakim menyampaikan keiginannya. Syaikh Ahmad sangat senang mendengarnya dan langsung memberi tahu syarat dan informasi terkait kuliah di Madinah. Semangat Hakim tambah membara, di dalam benaknya langsung terbayang rencana-rencana ke depan.

***

Saat kelulusan tiba, Hakim diantar paman Karim untuk datang ke sekolah. Hakim menjadi lulusan terbaik di sekolahnya. Tangisnya pecah, begitu pula paman Karim ketika mendengar pengumuman tersebut. Tak lupa Hakim panjatkan sujut syukur yang panjang, sebagai wujud rasa terima kasih kepada Sang Pencipta.

Sepulang dari sekolah, Hakim menyampaikan rencananya ke paman Karim. Paman Karim senang sekali mendengarnya, bahkan Beliau bersedia mengantar sampai Madinah.

***

Dream comes true, mimpi Hakim untuk kuliah di Madinah akhirnya tercapai juga. Pagi itu sesampainya di Madinah, Hakim dan paman Karim langsung sujud syukur, aura tempat suci terpancar dari kebersihan serta keramahan penduduknya. Mereka menuju asrama mahasiswa yang tidak jauh dari Masjid Nabawi. Mereka menyempatkan untuk ke masjid Nabawi terlebih dahulu. Rasa rindu pada baginda Nabi Muhammad SAW langsung menusuk hati, air mata meleleh tak kuasa dibendung. Sholat Tahiyatul Masjid[14] ditegakkan dengan khusyuk. Dzikir setelah sholat terasa sejuk, merasuk di hati. Sungguh benar terasa aura kota sucinya. Tak ingin rasanya untuk melangkahkan kaki keluar, yang ada hanya ingin tetap duduk bertafakur dan tilawah.

Akhirnya ba’da sholat Isya’ mereka baru menuju asrama. Sambutan hangat dari panitia membuat Hakim mudah untuk check in di asrama. Hakim langsung diantar menuju kamarnya. Kamar yang nyaman dan kondusif, serta lengkap dengan AC dan perabotannya.

***

Hakim larut dalam perkuliahannya, belajar di Fakultas Al-Qur’an dan Studi Islam membuatnya tambah cinta dengan Al-Qur’an. Selain belajar tentang Tafsir dan Qiroah, Hakim juga belajar tentang Fiqh, Aqidah, Sejarah dan Bahasa. Kuliah di Islamic University of Madinah 100% gratis. Hakim tidak perlu mikir berdagang untuk biaya hidupnya. Semua full ditanggung oleh Universitas. Mulai dari uang saku, uang buku, kuliah gratis, asrama gratis, jaminan kesehatan, uang makan, bahkan bagi mahasiswa baru akan mendapat uang ganti atas persiapan-persiapan yang dilakukan sebelum sampai Madinah, seperti uang terjemahan, uang check kesehatan dll.

Dalam hati, Hakim berazam[15] untuk bisa fokus kuliah dengan hasil cumlaude[16], tidak ada alasan untuk tidak belajar. Semua fasilitas mendukung, bahkan fasilitas ibadahpun sangat mendukung. Setiap hari bisa sholat lima waktu di masjid Nabawi. “Shalat di masjidku (Masjid Nabawi) lebih utama daripada 1000 shalat di masjid lainnya selain Masjidil Harom. Shalat di Masjidil Harom lebih utama daripada 100.000 shalat di masjid lainnya.”[17]

Bisa ibadah dan belajar maksimal. Berkali-kali Hakim berlirih Fabiayyi ‘ala irobbikuma tukadziban...[18]

Hakim mulai punya temen akrab, namanya Fatih. Fatih merupakan keturunan arab, namun keluarganya sudah lama tinggal di Makasar, Indonesia. Keluarganya pembisnis kayu gaharu, serta punya beberapa restoran timur tengah di Indonesia. Hakim semakin tertarik mendengar Fatih tinggal di Indonesia. Hakim penasaran dengan Indonesia, selama ini yang dia dengar Indonesia adalah Negara yang subur, aman dan jumlah penduduk muslim terbanyak di dunia. Namun Fatih tidak bisa bercerita banyak tentang Indonesia, karena dari kecil dia tinggal di Abu Dhabi, baru tiga tahun dia datang ke Makasar.

***

Hakim dan Fatih semakin akrab, selain satu kelas, ternyata mereka juga satu gedung di asrama Jam'iyyatul Birr yang terletak 1,5 km utara Masjid Nabawi. Bahkan ke masjid juga sering bareng. Selain sering berbincang tentang mata kuliah, mereka juga saling bercerita tentang kehidupan keluarganya. Hakim agak minder setelah mengetahui kalau Fatih ternyata dari keluarga bangsawan, pembisnis sukses dan kaya raya. Namun suasana berhasil dicairkan oleh Fatih, dia mengingatkan bahwa semua hanya titipan dari Allah. Manusia meninggal hanya membawa amalnya, harta dan keluarga semua ditinggal di dunia. Hakim mengangguk, mengiyakan.

Tak terasa waktu berjalan sangat cepat. Dua semester telah terlampaui dengan hasil yang memuaskan, Hakim senang bisa mengawali satu tahun kuliahnya dengan baik. Liburan musim panas tiba. Hakim diajak teman-temannya kerja di travel umroh. Tanpa berpikir panjang, Hakim langsung menerima tawaran Fatih, Irfan dan Iwan. Travel biasanya menggaji para muthowwif [19] sekitar 150-200 real per hari. Adapun musim haji mereka bisa dibayar sekitar 1500 – 2000 dolar permusim (25 – 28 hari kerja). Berkah yang luar biasa dirasakan Hakim dan teman-temannya.

***

Diakhir kuliah S1 nya banyak teman Hakin yang akan menikah, salah satunya Fatih. Fatih akan menikah dengan gadis Jawa Semarang yang dulu pernah menjadi jama’ah umrohnya. Gadis tersebut bernama Gendhis, anak dari rekan bisnis ayahnya Fatih. Pada waktu umroh, ayahnya Gendhis sekilas melihat name tag Fatih yang tertera marganya, yang kebetulan marga tersebut sama dengan rekan bisnisnya. Dia memberanikan diri untuk tanya lebih lanjut ke Fatih, ternyata Fatih adalah anak dari rekan bisnisnya. Singkat cerita, ayahnya Gendhis berniat menjodohkan anaknya, dan ternyata disambut baik oleh keluarga Fatih. Akad nikah dan resepsinya akan dilaksanakan tanggal 15 Syawal, masa libur terakhir sebelum sidang S1.

Hakim diundang sekaligus mendapat tiket PP Madinah-Indonesia. Dia tidak bisa menolak. Dia berangkat bersama Irfan dan Iwan yang kebetulan mereka asli Indonesia, sekalian menggunakan jatah tiket PP liburan mereka.

***

Akhirnya Hakim menginjakkan kakinya di tanah Indonesia. Hakim tinggal di rumah Iwan, di Semarang. Sedangkan Irfan pulang ke kampung halamannya di Palembang, Sumatera Selatan. Irfan akan datang ke Semarang sehari sebelum akad nikahnya Fatih dan Gendhis.

Malam takbiran suasana rumah Iwan ramai, banyak sanak saudaranya yang datang membawa makanan. Tradisi di Jawa kalau mau Idul Fitri saudara yang lebih muda memberi sesuatu, seringnya berupa masakan khas lebaran, kepada saudaranya yang lebih tua. Orang tua Iwan anak kedua di keluarganya, jadi banyak adik-adiknya yang mengantar maknan ke rumahnya. Selain adik-adiknya ternyata tetangga juga pada datang membawa makanan. Tapi ada yang spesial malam itu, ayahnya Iwan memanggilnya ketika ada tamu seorang gadis yang disertai kakaknya. Gadis Jawa yang anggun dan sholehah, Aisyah namanya. “Iwan kamu temui dulu tamunya, ayah mau ngantar adikmu ke rumah Pakde.” Iwan langsung menarik tangan Hakim untuk minta ditemenin.

“Assalamu’alaikum mas Iwan,” sapa gadis itu.

Iwan agak gagap menjawabnya, “Wa’alaikumussalam waroh matullah.”

“Ini mas ada titipan dari Ibu untuk keluarga mas Iwan.”

“Oh iya terima kasih, sebenarnya nggak usah repot-repot lho...”

“Nggak repot Wan, ini kan masakan Ibu dan Aisy sendiri, jawab kakaknya Aisyah”

Nggak lama kemudian terdengar adzan Isya’, “Wah Mas kita lanjutkan nanti ya ngobrolnya, kita sholat dulu.”

“Iya ngak papa Wan, sampe ketemu minggu depan ya,” sahut Kakaknya Aisyah.

“Insya Allah,” jawab Iwan.

“Aisy sampaikan terimaksih pada Ibu ya, salam buat Bapak, lanjut Iwan”

“Insya Allah Mas nanti Aisy sampaikan,” jawab Aisyah.

Kedua mata Iwan dan Aisyah sempat beradu, dan ces…terasa di hati. Iwan langsung komat-kamit istiqfar, begitu juga Aisyah.

***

Setelah sholat Idul fitri, keluarga Iwan berziarah ke makam kakek –nenek serta sesepuh yang sudah meninggal. Setelah itu mereka sarapan bersama, tak lama kemudian banyak tetangga dan saudara yang datang untuk sungkem ke orang tua Iwan, maklum orang tua Iwan termasuk yang dituakan di kampungnya. Iwan beserta adik-adiknya juga silaturahim ke tetangga dan juga kerabat. Iwan memperkenalkan Hakim kepada tetangga dan juga kerabatnya. Hakim senang, mendapati tetangga dan kerabat Iwan yang welcome kepadanya.

Tanggal dua Syawal ayahnya Iwan mengadakan rapat keluarga, rapat tersebut dihadiri oleh kelurga inti, saudara-saudara dari Ayahnya Iwan, dan tak lupa Hakim juga diundang. Hakim terkejut ketika mengetahui kalau rapat tersebut membahas tentang lamaran Iwan ke Aisyah yang akan dilaksanakan tanggal tuju Syawal. Dalam rapat tersebut Ayahnya Iwan membagi tugas untuk persiapan dan saat hari H nya.

Setelah rapat selesai Iwan minta maaf ke Hakim kalau tidak memberi tahu sebelumnya perihal lamaran tersebut. Hakim tidak mempermasalahkan, dia minta do’a semoga segera menyusul. Iwan mengaminkannya.

Hakim membantu persiapan lamaran, mulai dari membeli barang seserahan, kue-kue, menghias seserahan dsb. Bagi Hakim itu sebuah hal yang baru, melihat barang seserahan yang dihias sedemikian bagusnya dengan aneka bentuk. Hakim banyak membantu dalam persiapan tersebut. Dia menemani adiknya Iwan, Farida dan Farid, si kembar, untuk kesana kemari mempersiapkan segalanya. Hakim jadi ingat almarhum adik-adiknya, mereka seumuran Farida dan Farid.

Hari yang dinanti datang juga, pagi itu ada tiga mobil yang sudah terparkir di halaman rumah Iwan. Mobil-mobil tersebut yang akan dipakai untuk lamaran. Hakim satu mobil dengan Farida dan Farid, mobil tersebut khusus untuk memuat barang-barang lamaran. Sedangkan dua mobil lainnya untuk kelurga inti serta saudara-saudara dari Ayahnya Iwan.

Acara lamaran berjalan lancar, dan sudah disepakati kalau akad dan resepsi pernikahan akan dilaksanakan akhir tahun setelah Iwan wisuda S1. Setelah acara lamaran selesai Hakim minta izin Iwan untuk menyampaikan kabar tersebut kepada Irfan. Setelah mendapat izin hanya Irfan yang boleh tahu kabar tersebut, Hakim kirim pesan bahwa Iwan baru saja mengkhitbah[20] seorang gadis. Ternyata sore harinya di Palembang terjadi hal yang sama, Irfan juga mengkhitbah gadis pujaan hatinya. Masya Allah…padahal mereka tidak saling memberi kabar tentang itu, karena kalau masih proses khitbah sebaiknya info tersebut tidak disebar luaskan.

Tidak bisa dipungkiri, melihat sahabat-sahabatnya yang sudah proses menuju pernikahan, muncul rasa kepingin untuk menikah dalam hati Hakim. Dia kembali mengingat temen-temen sekolah ketika di Sudan. Dalam ingatannya tidak ada gadis yang membuatnya tertarik. Hakim bercermin diri, dengan kondisi dirinya yang sebatang karang, fisik tubuh khas orang-orang Afrika, terbesit dalam pikirannya, Siapa kelak yang akan menjadi istrinya? Orang Sudan juga kah? Tapi siapa? Atau orang Indonesia?Apakah mereka mau dengan fisik sepertinya?”

Ada suara yang seolah menjawab pertanyaannya, “Semua ada waktunya dan ada jodohnya masih-masing”. Iwan mencoba menenangkan sahabatnya. Iwan mengingatkan “Bahwa laki-laki yang baik akan mendapatkan wanita-wanita yang baik, begitu juga sebaliknya”[21] Hakim tersenyum seraya mengiyakan “Ana[22] yakin dengan janji Allah”. Iwan lalu memeluknya.

***

Waktu liburannya telah usai, saatnya konsentrasi untuk segera menyelesaikan S1. Enam bulan terakhir tahun itu menjadi hari-hari tersibuk selama kuliah di Madinah. Hakim mengerahkan semua tenaga untuk ujian S1 nya. Alhamdulillah hasilnya tidak sia-sia, Hakim memperoleh predikat mumtaz[23]. Mengetahui hal tersebut, Hakim langsung sujud syukur. Semua sahabat mengucapkan selamat padanya.

Malam harinya, Hakim menyusun rencana ke depan. Hakim berencana akan melanjutkan S2 di Universitas yang sama sembari mengamalkan ilmu yang sudah diperolehnya. Dia mengontak Syaikh Ahmad menyampaikan pesan bahwa dia sudah lulus S1 dan mohon do’a dari Syeikh untuk study S2 nya. Syeikh Ahmad senang mendapat info tersebut dan selalu mendo’akan Hakim selalu dalam rahmatNya. Selain itu Hakim juga curhat tentang keinginan untuk segera menikah, untuk itu dia minta Syeikh untuk membantunya. Syeikh Ahmad dengan senang hati akan membantunya dan akan segera menghubunginya kalau sudah menemukan calon buat Hakim.

Selain minta tolong ke Syeikh Ahmad, Hakim juga mnita tolong kepada sahabat-sahabatnya untuk membantu menggenapkan agamanya. Sahabatnya pun dengan senang hati akan membantu. Hakim merasa sudah memaksimalkan ikhtiarnya untuk menjemput jodoh, tinggal memperbanyak do’a dan menunggu takdir Allah.

***

Seminggu sebelum mulai kuliah S2nya Hakim jatuh sakit, badannya lemas, seolah tak bertenaga. Dia mencoba istirahat di asrama, namun badannya malah tambah lemah. Akhirnya dia putuskan untuk periksa ke rumah sakit Universitas. Dia menceritakan kondisinya kepada dokter bahwa bandannya lemah dan beberapa hari terakhir merasakan nyeri yang kadang muncul di dada sebelah kirinya. Dokter melakukan pemeriksaan untuk mendapatkan diagnosa yang tepat.

Setelah melalui bebrapa pemeriksaan dokter mendiagnosa kalau Hakim kena penyakit Aterosklerosis. Aterosklerosis diakibatkan oleh dinding arteri yang mengalami penebalan karena lemak, kolesterol dan buangan sel lainnya yang mengendap sehingga pasokan darah ke sel-sel otot mengalami penghambatan. Ateroskleroris bisa terjadi di seluruh bagian tubuh. Nah, bila terjadi pada dinding jantung maka akan disebut sebagai penyakit koroner atau penyakit jantung iskemik. Penyakit ini berlangsung menahun dan timbul banyak gangguan penyakit. Penyakit ini dimulai dari adanya lesi (jaringan yg tdk normal) dan retakan pembuluh darah khususnya karena ada tekanan kuat pada pembuluh jantung. Kemudian di tahap selanjutnya, tubuh akan berusaha memperbaiki retakan tersebut dengan menempatkan zat-zat lemak pada pembuluh darah. Nah, kemudian lambat-laun karena proses keretakan yang selalu berulang, pembulun jantung pun ditutupi oleh zat-zat lemak. Gejala awal penyakit ini adalah angina pektoris (ketidaknyamanan dada yang terjadi ketika ada suplai oksigen darah yang berkurang pada area otot jantung. )yang menyebabkan rasa nyeri di daerah jantung dan dada karena berkurangnya pasokan darah dalam jantung.[24]

Hakim kaget setelah mendengar penjelasan dokter. Dia merasa selama ini badannya sehat-sehat saja dan baru beberapa pekan terakhir dia merasakan sedikit nyeri di dada. Dokter mencoba menenangkan Hakim dengan memberi nasehat untuk banyak istirahat dan resep obat yang insya Allah bisa membantu pemulihannya.

Semangatnya untuk berta’aruf [25] hilang setelah dia tahu penyakitnya. Dia berdo’a minta yang terbaik dari Allah serta minta petunjuk bagaimana dia harus melaluinya. Semenjak dari dokter, Hakim mengurangi aktivitasnya, dia banyak berbaring ditempat tidur. Bahkan untuk sholat pun dia lakukan sambil berbaring. Hakim mengisi hari-harinya dengan banyak muroja’ah Al-Qur’an.

Menjelang masuk kuliah S2, Hakim sudah lebih sehat dibanding sebelumnya. Namun rasa nyeri kadang masih menghampiri dada sebelah kirinya. Kadang hal itu tak dirasakannya lagi karena sibuk dengan perkuliahan S2nya. Semangat belajarnya sangat luar biasa. Kecerdasan otaknya sungguh merupakan anugerahNya yang tidak ada di setiap orang.

Tahun pertama di program S2nya diselesaikan dengan hasil yang sangat memuaskan. Semua dosen dan temannya memberikan pujian atas hasil yang diperolehnya. Waktu liburan musim panas tiba, saatnya dia akan silaturahim ke Indonesia. Dia berencana akan memberi surprise kepada sahabat-sahabatnya yang di Indonesia. Tapi ternyata dia harus balik ke rumah sakit lagi, serangan rasa nyeri di dada kirinya kembali terasa. Kali ini dia sampai di rawat di RS karena kondisinya semakin lemah.

Mulutnya dia penuhi dengan istiqfar, memohon pada Nya atas semua khilaf yang sudah dilakukan baik yang sengaja maupun yang tidak dia sengaja. Sambil berkomat-kamit istiqfar, dia teringat akan email yang pernah dikirim ke Farida, adiknya Iwan. Dan juga dia ingat akhwat yang dikenalkan Syeikh Ahmad kepadanya seminggu yang lalu. Tiba-tiba air matanya mengalir, dengan kondisi sakit yang dia rasakan, dia tidak tega untuk ta’aruf dengan siapapun. Dia tidak tau takdir yang akan Allah tetapkan pada nya.

Tangannya meraih laptop yang ada di meja samping tempat tidurnya. Dia membuka email, ada beberapa email baru masuk, termasuk dari Farida dan Syeikh Ahmad. Dia buka yang dari Farida terlebih dahulu. Sebelumnya Hakim mengemail Farida yang isinya bahwa dia ingin melamarnya dan mengajukan satu syarat supaya Farida memakai jilbab kalau menerima lamarannya. Sejak pertama kali bertemu Farida, Romadhon tahun lalu Hakim langsung terpanah hatinya. Bayangannya sering muncul disaat-saat yang tidak diduga, Hakim ingat keramahannya, kebaikannya, kesopanannya, dan kelembutannya. Farida merupakan potret wanita Jawa asli dan entah bagaimana Hakim bisa tertarik padanya. Namun dengan kondisi sakit yang semakin parah tersebut membuat Hakim berat untuk melanjutkannya. Jawaban email dari Farida membuatnya sedikit tenang. Farida belum menjawab perihal lamarannya, dia ingin mengenal Hakim terlebih dahulu. Dalam hati Hakim berharap Farida tidak menerima lamarannya. Dalam kondisi sakit dia justru ingin sendiri, tidak ingin merepotkan banyak orang atas penyakit yang dideritanya, dia ingin lebih dekat denganNya

Lalu Hakim membuka Email dari Syaikh Ahmad. Di email tersebut menyebutkan bahwa ada lampiran biodata akhwat yang sudah siap menikah. Tanpa membuka lampiran emailnya, Hakim langsung menjelaskan kondisinya kepada Syeikh Ahmad. Beliau minta saran yang terbaik baginya. Selesai mengirim email, rasa nyeri yang luar biasa datang lagi. Rasa nyeri tersebut samapi tak tertahankan, Hakim jatuh pingsan.

***

Iwan tanpa memberi kabar tiba-tiba datang ke Madinah, tujuannya untuk mengambil beberapa buku yang masih di titipkan di Hakim. Mengetahui Hakim di rawat di RS, Iwan langsung membesuk. Sampai di RS kondisi Hakim lagi kritis. Dokter dan perawat datang memeriksa lalu mengechek detak jantungnya. Detak jatungnya lemah. Tak lama kemudian dokter memanggil Iwan ke ruangannya. Dokter menjelaskan kalau Hakim sebaiknya di rawat di ICU supaya semuanya terkontrol dengan peralatan yang lebih lengkap. Iwan meminta waktu untuk menjawabnya, dia akan menyampaikannya ke Hakim terlebih dahulu. Sesampainya di kamar, Hakim sudah sadar, namun mukanya sangat pucat. Hakim kaget ada Iwan di sampingnya. Iwan mencoba menjelaskan kedatangannya ke Madinah. Hakim tersenyum lalu dia minta Iwan untuk mengambilkan laptopnya. Iwan tidak bisa menolak. Dia melihat Hakim langsung dengan lincah mengetik di atas keyboard. Iwan tidak tahu apa yang dituliskannya. Setelah selesai mengetik, dia minta minum lalu mematikan laptopnya. Iwan menyampaikan pesan dokter, Hakim hanya mengangguk. Perawat dengan sigap langsung membawanya ke ICU. Peralatan langsung di pasang. Oksigen, monitor jantung dan peralatan yang lain langsung menyala. Hakim terlihat lebih tenang dan Iwan menunggu disampingnya. Nggak lama kemudian Hakim memanggil Iwan, “Iwan…Ana mintaa maaf kalau selama ini ada khilaf dan sampaikan maaf Ana ke Farida, Ana titip oleh-oleh buat Farida yang Ana taruh di meja kamar. Sampaikan juga maaf kepada para dosen dan teman-teman ya…” Imam hanya sanggup mengangguk dan merasakan akan kehilangan sahabatnya. Lalu keluar lafadz “Laa illa ha illaallah..” dari mulut Hakim. Itu kalimat terakhir yang keluar dari mulutnya. Iwan langsung mengucap “Innalillahi wa inna ilahi roojiun”. Iwan langsung membernarkan posisi tangan dan menutup matanya dengan sempurna. Tangis Iwan pecah, dia balik ke Madinah ditakdirkan untuk menyaksikan sahabatnya menghadap Sang Pencipta. “Bidadari surga telah menunggumu Sobat…menjadi pengantin abadi di surgaNya Insya Allah”.






[1] Saya


[2] Kamu


[3] "Ya Allah, ampunilah dosanya, berilah rahmatMu ke atasnya, sejahtera dan maafkanlahnya."


[4] Menghafal


[5] Tempat belajar dan menghafal Al-Qur’an


[6] Setelah


[7] Mengulang kembali hafalan


[8] Penghafal Qur’an


[9] HR. Muslim no.1631


[10] H.R. Thabrani


[11] Membimbing mengucap kalimat Tauhid


[12] Tiada Tuhan selain Allah


[13] Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah dan kepada Allah jugalah kami kembali


[14] Sholat sunnah dua rokaat ketika masuk masjid


[15] Keinginan kuat


[16] Lulus sempurna


[17] HR. Ahmad dan Ibnu Majah no. 1406, dari Jabir bin ‘Abdillah. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. Lihat Shahih At Targhib wa At Tarhib no. 1173.


[18] Nikmat Tuhanmu yang mana engkau dustakan?


[19] Sebutan untuk guide umroh atau haji


[20] melamar


[21] Q.S Annur:26


[22] saya


[23] Sangat baik sekali


[24] Sumber: http://kesehatan96.blogspot.com/2013/04/macam-macam-penyakit-jantung.html#ixzz3sIUr7ZAo


[25] Berkenalan

I'm Not Your Valentine



“Your plane has been cancelled. I will transfer you to a long distance train.”[1]


“How long does it take from here to Berlin by train?”[2]


“Four to five hours. And the train will leave in 30 minutes.”[3]


“That’s bad.”[4]


Bhara sedikit kecewa mendengar penjelasan petugas dari Lufthansa[5], tetapi apa boleh buat, cuaca buruk yang menyebabkan penerbangan Frankfurt-Berlin dibatalkan dua jam sebelum keberangkatan. Meski musim dingin sudah masuk bulan terakhir, Februari, salju kadang masih turun. Bhara langsung menarik tangan Rizura untuk mengikuti langkahnya menuju peron Long Distance Train[6] dan mendapati lorong-lorong yang dingin dan sepi. Rizura mencoba melepaskan tangannya, namun Bhara tetap menggenggamnya dengan erat sambil berlari kecil, sambil bergumam “ Sorry..kita harus cepat Rizura..kalau nggak kita bisa ketinggalan kereta”. Rizura kesal dengan tingkah Bhara yang tiba-tiba diluar kontrol seperti itu. Mereka harus naik kereta tujuan Frankfurt Main Stadion sebelum akhirnya berganti kereta Inter City Express[7] (ICE) menuju stasiun Hauptbahnhof [8]di Berlin.


Di dalam kereta Rizura menjelaskan pada Bhara bahwa dia tidak suka dengan tindakannya. Dia menjelaskan bahwa hal tersebut tidak boleh dilakukan orang yang bukan mahramnya. Dia menambahkan penjelasannya bahwa Rasulullah mengajarkan demikian,


“Aisyah Radhiyallahu anhuma mengatakan, bahwa tangan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah bersentuhan dengan kulit telapak tangan wanita lain yang bukan mahram. Bahkan tetap merasa tidak perlu berjabat tangan pada sebuah prosesi yang sangat krusial, yakni baiat (sumpah dan janji setia pada pemimpin) sekalipun.”[9]


“Begitu mulianya ajaranNya, jadi tolong hargai aku agar tetap bisa menjalankan ajaranNya”


“Baik, saya minta maaf, saya berjanji tidak akan mengulangi lagi. Tolong ingatkan saya.”


*****


Mereka ke Berlin dalam rangka memenuhi undangan paman Benn, adik kandung dari Abinya Bhara sekaligus dosen Rizura ketika kuliah di Wales, U.K. Paman Benn sudah menunggu mereka di ruang tunggu Hauptbahnhof. Tak lama kemudian terlihat mereka berdua keluar dari pintu kedatangan, paman Benn langsung menghampiri mereka. Bhara langsung memeluk pamannya dengan erat, sedangkan Rizura menelungkupkan kedua tangan di depan dada sembari memberi salam.


“Kamu makin cantik saja Rizura”


“Paman bisa aja, Alhamdulillah”


“Hayuk kita menuju mobil, ngobrolnya kita lanjutkan di rumah”


Mereka berdua mengikuti langkan paman Benn menuju parkiran. Membutuhkan waktu sepuluh menit untuk sampai ke rumah Paman Benn. Sepanjang mata memandang terlihat putih, tertutup salju. Saat itu bulan February, akhir dari musin dingin, namun masih ada salju yang turun. Bibi Alen, istri paman Benn sudah menunggu di ruang tamu. Bibi Alen terlihat hangat menyambut kedatangan mereka, Bhara dan Rizura langsung dipeluk bergantian. Eggy dan acid, anak paman Benn dan bibi Alen ikut menyambutnya


“Willkommen in Berlin Bhara und Rizura”[10]


“Danke”[11]


Mereka saling bersalaman dan terlihat bersahabat, meski mereka baru pertama kali bertemu dengan Rizura. Paman Benn mempersilahkan mereka duduk, Eggy dan Acid ke belakang menyiapkan minuman dan snack. Paman Benn dan bibi Alen menanyakan bagaimana mereka bisa kenal. “Kalian satu kantor di Frankfurt?”


Rizura langsung menjelaskan bahwa mereka satu departemen di Deutsche Kommunikation[12]. Rizura baru satu tahun bekerja di perusahaan tersebut, yang sebelumnya dia pernah magang selama musim dingin dua tahun sebelumnya. Saat itu Bhara jadi supervisor di departemen SQA (Service Quality Assurance). Keadaan tersebut awal mereka saling kenal dan berlanjut hingga sekarang. “Wah..wah…perkenalan yang menyenangkan!”, seru bibi Alen.


Bhara dan Rizura hanya senyum-senyum. Eggy dan Acid datang membawa teh jahe hangat dan wurst[13]. Hidangan yang cocok di musim dingin. Tanpa menunggu aba-aba dari tuan rumah, Bhara langsung menyantapnya. Rizura memandang bibi Alen yang menganggukan kepala sembari senyum, tanda mempersilahkan. Beberapa saat sausana ruang tamu hening. Acid memecah keheningan dengan bertanya kepada Rizura,“Wie lange Sie in Berlin bleiben?”[14] “Wir planen, für drei Tage zu bleiben”[15], jawab Rizura. Paman Benn langsung menimpali, “Es könnte mehr sein”[16]. “Recht Yup..that ist”[17], Bhara membenarkan ucapan paman Benn. Rizura langsung batuk, tersedak wurst yang sedang dikunyahnya. Mukanya memerah tampak kesulitan mengatur nafas dan mencoba menelan.


“Nggak apa-apa Rizura,,anggap saja kami orang tua kalian di sini, jadi mau tinggal lebih lama nggak masalah, bahkan kalau mau tinggal di sini selamanya juga okay.” Apa yang bibi Alen katakan membuat Rizura tambah kaget. Untuk menutupinya Rizura hanya bilang trimakasih dan mengatakan kalau dia masih banyak pekerjaan di Franfurt. “Saya izinkan kamu liburan seminggu di sini”, tambah Bhara. Rizura mencoba menyampaikan alasannya, tetapi selalu disanggah oleh Bhara, yang intinya kerjaan bisa dilakukan dari Berlin via email.


Rizura nggak bisa mengelak, selaku staff hanya bisa nurut dengan atasannya kalau sudah terkait pekerjaan. Keluarga paman Benn senang mendengar mereka akan tinggal seminggu di Berlin. Mereka akan mengajak jalan-jalan atau hanya sekedar berbincang di rumah. Paman Benn mempersilakan mereka istirahat. Eggy dan Acid membantu mereka membawa tas dan menunjukkan kamar mereka.


*****


Ada pesan masuk ke hand phone Rizura, “Ri,,kamu tenang saja urusan cuti libur aku yang atur. Kita nikmati liburan ini. Nanti siang aku ajak kamu jalan-jalan untuk melihat tempat wisata Berlin.” Rizura mencoba menenangkan diri dengan menarik nafas panjang dan tetap istiqfar dalam hati, “Robb..bantu aku menghadapinya..ampuni aku..aku akui aku salah menerima ajakannya ke tempat ini”. Setelah lama nggak ada balasan pesan dari Rizura, Bhara menelphone. Rizura ragu untuk mengangkat, karena belum tau harus berbicara apa. Deringan dibiarkan sampe habis. Nggak lama kemudia ketukan pintu terdengar, tambah bingung Rizura menghadapinya. “Ya Allah…ampuni aku..bantu aku..bantu aku..”, lirin Rizura.


“Knock..knock..Assalamu’alaikum..Ri..Ri..”


Sampai dua kali Bhara menggulang mengetuk pintu. Rizura nggak enak dengan Eggy dan Acid kalau sampai terdengar mereka, yang kamarnya disebelah. Dengan Bismillah Rizura membuka pintu.


“Kamu sakit Ri? Koq muka kamu pucat gitu, mata kamu sembab.”


Tanpa disuruh masuk, Bhara langsung menyelonong masuk kamar Rizura, duduk di kursi sudut kamar.


“Sorry..kita bicara di ruang tamu saja”


“Di ruang tamu dingin, Heizung[18] nya rusak”


Rizura mati gaya, bingung mau ngomong apa. Sedangkan Bhara duduk santai seolah tanpa dosa. Bahkan dia minta Rizura untuk menutup pintu kamarnya supaya udara dingin tidak masuk.


“Sekali lagi sorry Bhara…biarkan pintu tetap terbuka. Kita ini bukan mahram nggak boleh berduan di tempat sepi. Nanti bisa jadi fitnah”


“Aku akan jadikan kamu mahram ku”


Glek..hati Rizura bagai kesambar petir.


“Bukan begitu maksudku Bhara,,tolong kamu ngerti donk..”


“Aku ngerti Ri…apa maksudku belum jelas?” “Will you be my valentine?”


“Maaf saya tidak merayakan hari valentine, jadi kamu salah orang”


Bhara mengklarifikasi pernyataannya, bahwa maksudnya adalah mau menjadikan Rizura istrinya. Karena momennya valentine, Bhara keceplosan mengucapkannya. Padahal sebenarnya dia tahu kalau Rizura nggak setuju Valentine Day, begitu pula dirinya. Tapi belum sempat menjelaskan, Rizura langsung bicara panjang lebar tentang Valentine.


“Valentine Day bukan ajaran agama Islama. Melainkan syiar agama Nasrani. Bahkan kalau mau dirunut ke belakang, sejarahnya berasal dari upacara ritual agama Romawi kuno. Adalah Paus Gelasius I pada tahun 496 M yang memasukkan upacara ritual Romawi kuno ke dalam agama Nasrani, sehingga sejak itu secara resmi agama Nasrani memiliki hari raya baru yang bernama Valentine’s Day. The Encyclopedia Britania, vol. 12, sub judul: Chistianity, menuliskan penjelasan sebagai berikut: “Agar lebih mendekatkan lagi kepada ajaran Kristen, pada 496 M Paus Gelasius I menjadikan upacara Romawi Kuno ini menjadi hari perayaan gereja dengan nama Saint Valentine’s Day untuk menghormati St. Valentine yang kebetulan mati pada 14 Februari . Jadi jangan mengikuti apa yang bukan ajaran agama kita, supaya kita tidak termasuk dalam golongannya. “


Katakanlah: Hai orang-orang non muslim. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang Aku sembah. Dan Aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah menjadi penyembah Tuhan yang Aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.[19]


“Okay..okay..aku minta maaf. Janji tidak akan mengulangi lagi.”


“Please keep your promise!”


“Insya Allah”. Ayo kita sarapan dulu!”


Rizura hanya mengangguk dan mengikuti turun ke dapur.


“Paman Benn dan keluarganya tadi pagi-pagi sudah pergi, mendadak ada urusan. Bibi Alen sudah berpesan kepadaku kalau sudah disiapin sarapan di kulkas tinggal manasin aja”


“Eggy dan Acid ikut juga?”


“Yup”


“Kalau gitu aku sarapan di kamar saja”


“Ri…please…kenapa sich selalu menghindar?”


“Aku sudah menjelaskan ke kamu Bhara, jadi tolong aku nggak perlu ngulang lagi!”


“Tapi please..untuk kali ini saja…ada yang mau aku sampaikan ke kamu.”


“Sorry Bhara…aku ngak bisa!”


Setelah mengambil sarapan Rizura langsung ke kamar. Bhara hanya bisa pasrah melihatnya naik tangga.


*****


Paman Benn dan keluarga berkunjung ke apartemen yang tidak jauh dari rumah. Di sana paman Benn bertemu dengan seseorang yang sudah paruh baya beserta istrinya untuk membicarakan rencana Bhara. Paman Benn mencoba menceritakan apa yang terjadi pada Bhara. “Sejak pertama kenal dengan Rizura, Bhara sudah mulai jatuh hati. Saat itu Rizura sedang magang di Deutsche Kommunication dua tahun yang lalu. Apa yang membuat Bhara begitu tertarik dengan Rizura yaitu agama, kecantikan dan juga kecerdasannya. Dia merasa bertemu dengan malaikat yang selalu mengingatkan akan nasehat-nasehat Abi dan Mommy nya. Kata-kata, prilaku dan cara berpikir Rizura membuat Bhara terpesona. Bhara merasa menemukan oase[20] di padang pasir. Dulu sebelum dia SMA, ada Abi dan Mommy yang selalu mengingatkan untuk sholat berjamaah di masjid, tilawah, sedekah dll. Setelah dia SMA di U.K. hidupnya hambar, kosong, meski secara akademis dia selalu menjadi yang terbaik”. Tak terasa air mata paman Benn menetes, dia merasa bersalah tidak bisa menjadi orang tua asuh yang benar. Dia hanya sekedar memenuhi kebutuhan materi Bhara, tanpa pernah bertanya apa yang dia rasakan.


“Kamu tak perlu menangis Benn, ini bukan salah kamu, ini salah kami yang terlalu semangat mengirim anaknya sekolah ke luar negri”,lirih pria paruh baya


“Apa sekarang Rizura ada di rumahmu Benn?”, tanya wanita paruh baya.


“Iya mbak...dia sekarang ada di rumah kami.”, jawab paman Benn


“Coba kamu pelan-pelan ngobrol sama anak itu, kira-kira dia suka nggak dengan Bhara.”,lanjut wanita paruh baya


“Baik Mb...nanti malam saya akan coba”, jawab bibi Alen.


*****


Rizura video call dengan ortunya di Jakarta. Rizura menceritakan banyak hal, termasuk kondisinya sekarang yang lagi dia alami. Abi dan Umminya langsung mengetinterogasi. Bertubi-tubi pertanyaan mereka lontarkan. Rizura dengan sabar menjawab pertanyaan satu-satu.


“Bahara itu supervisorku[21] di kantor Bi,,Mi,,. Nah kenapa saya bisa sampai ke Berlin, dia mendapat undangan dari Pamannya untuk silaturahim ke Berlin, nah kebetulan Paman itu dosenku waktu di Wales U.K. Nah saya pikir sekalian silaturahim ke Beliau, tapi kondisinya lain, saya kurang nyaman dengan tingkah Bhara yang tiba-tiba bilang “Will you be my valentine?”[22], dan tadi pagi dia ngandeng tanganku, alasannya buru-buru ngejar kereta. Nah..gitu singkat ceritanya Bi..Mi..


“Gimana karakter Bhara di kantor?”, tanya umminya Rizura


“Kalau di kantor sich berwibawa, dan nggak neko-neko Mi..baru kali ini lah aku tahu dia seperti ini.


“Dia suka sama kamu Nak..


“Ummi…jangan katakana itu…aku nggak mau…”


“Yakin kamu nggak ada rasa padanya?”


“Rasa apa Mi?


“Tertarik maksud Ummi..”


“Ehm..kalau sebelum kejadian ini sich sempat kagum, dia pandai, ganteng dan aku sering lihat dia sholat di ruangannya. Bertanggung jawab dan berani ambil resiko. Gitu Mi..”


Abinya memotong pembicaraan, “Namanya Bhara siapa Nak?”


“Yudha Bhara Bi…”


“Oh jadi Bhara itu nama ayahnya?”


“Iya..dia pernah cerita tentang itu”. “Abi…dari tingkahnya tadi saja aku sudah illfeel Bi…!”


“Mungkin ilmu tentang itu belum sampai padanya Nak..buktinya dia rajin sholat kan?”


Rizura hanya bisa diam, merenungkan apa yang Abinya katakan.


“Sudah dulu Nak,,, kita lanjutkan besok ya..Abi sama Ummi mau sholat subuh dulu”


“Baik Bi..Mi..Assalamu’alaikum…”


“Waalaikumsalam Wr.Wb”


Rizura merenungkan apa yang dikatakan Abi dan Umminya. Pikirannya flashback ketika pertama kali bertemu Bhara. Dua tahun lalu saat Rizura datang untuk magang di perusahaannya, pertama kali yang dia temui adalah Yudha Bhara, Supervisor SQA Deutsche Kommunication. Saat itu Rizura datang paling pagi, sambil menunggu teman yang lain dia duduk di kursi lobby[23]. Disampingnya ada beberapa cewek yang mencoba menggoda Bhara dengan memanggil-manggil namanya ketika dia melintas lobby menuju lift. Bhara tetap berjalan seolah-olah tidak mendengar apa-apa. Beberapa menit kemudia ada beberapa temen yang sudah datang, kami menuju ruangan Yudha Bhara. Dia menyambut dengan hangat dan menjelaskan apa saja yang harus kami kerjakan. Setiap dari kami mendapat tugas yang berbeda. Dia banyak berdiskusi dengan Bhara. Dia sosok pemimpin yang baik, selalu menanyakan bagaimana pekerjaan para pegawainya. Dia selalu mengevaluasi pekerjaan dan memberi penjelasan ketika diperlukan.


Hal yang membuat Rizura kagum ketika pertama kali melihatnya sholat Dhuha di ruangannya. Ternyata ada supervisor yang menyempatkan Dhuha di ruangan kantornya. Suatu ketika pernah ada pekerjaan malem di site Frankfurt, yaitu mengontrol dan memonitoring perubahan frekuensi yang dilakukan oleh vendor[24], pekerjaan ini hanya bisa dilakukan pada malam hari, supaya tidak mengganggu traffic[25] komunikasi pelanggan. Jadi mau nggak mau Rizura harus begadang di kantor. Sesekali OB nanyain apa ada yang bisa dibantu tapi Rizura manjawab nggak ada. Kalau Cuma untuk membuat kopi dia biasa melakukan sendiri. Masih ada dua jam untuk mantengin laptop, tapi matanya nggak bisa diajak kompromi. Dia tertidur di meja kerjanya. Bangun-bangun dia kaget karena laptopnya sudah berpindah tempat di meja depannya dan ada seseorang. Rizura kaget bukan main, ternyata di depannya ada Bhara. Buru-buru dia lihat jam tangannya, dia tertidur 2,5 jam, itu artinya waktu eksekusi perpindahan frekuensi sudah selesai. Langsung dia minta maaf kepada Bhara atas kelalaiannya, dia segera ambil laptop yang di depan Bhara. Dia menemukan kalau pekerjaannya sudah selesai 30 menit yang lalu. Dia malu, baru menyadari kalau yang menyelesaikan monitoring dan laporan perpindahan frekuensi dikerjakan dengan rapi oleh Bhara. Dia mengulangi permintaan maafnya dan mengucapkan banyak trimaksih. Bhara hanya menjawab sama-sama lalu mengajaknya pulang. Rizura menolak, dia mau pulang dengan driver saja. Bhara memberitahu kalau driver maximal standby sampai jam kerja lembur dan malam itu sudah lebih satu jam. Rizura mau coba telephone naik taxi, tapi lagi-lagi Bhara menjelaskan kalau naik taxi larut malam berbahaya bagi perempuan, Bhara bergumam “kalau terjadi apa-apa bagaimana saya bertanggung jawab kepada orang tuamu”. Rizura merasa diperhatikan, tapi dia segera membuang jauh-jauh. Hal itu dilakukan Bhara karena dia pimpinannya, tidak lebih dari itu.


Ingatan Rizura teringat nasehat Bhara ketika akhir waktu magang. Pesannya supaya berhati-hati berada di negri orang, apalagi perempuan. Harus selektif dalam milih teman, terutama memilih teman laki-laki. Laki-laki yang baik hanyak akan mengajakmu jalan ketika dia mau serius denganmu. Ingatan Rizura berhenti, dia mengulang memory itu. Pada memory itu dia ingat kondisi dia saat ini. Dia diajak Bhara untuk silaturahim ke Berlin. Dia ingat juga apa yang dikatakan umminya “Dia suka sama kamu Nak..”


*****


Ketika mendengar kata Bhara, abinya Rizura jadi ingat nama seseorang. Dia mencoba mengingat wajah pemilik nama tersebut. Tiba-tiba memorynya tersangkut saat tugas di Palembang, Sumatera Selatan. Akhirnya wajah yang punya nama Bhara terlintas dalam benaknya. Dia langsung mencari di kontak HP nya, alhasil muncul nama Bhara Wira Kusuma Project. Saat itu Beliau menjadi Manajer Project, sedangkan abinya Rizura Manajer NSA (Network Service Area) di perusahaan yang sama yaitu Telekomunikasi Swasta di Indonesia. Mereka pernah tinggal satu rumah, kebetulan pangkat manajer mendapat jatah sewa rumah tiap tahun. Namun karena sama-sama keluarga tinggal di pulau Jawa, akhirnya menyewa hanya satu rumah untuk bertiga, satu lagi manajer RPA (Resource Performance Assurance). Untuk menjawab penasarannya, Abinya Rizura mencoba menelphone. Tak lama kemudia terdengar suara salam, dan ternyata nomer abinya Rizura juga masih tersimpan dalam phonebook Pak Bhara Wira Kusuma. Dua-duanya surprise, Pak Bhara langsung menyapa “Assalamu’alaikum Pak Iwan? Apa yang bisa saya bantu?”


“Wa’alaikumsalam…Pak Bhara..bagaimana kabarnya..”, jawab abinya Rizura.


Percakap berlangsung seru, dua sahabat lama yang bertemu kembali. Abinya Rizura langsung menanyakan apakah Beliau punya anak yang namanya Yudha Bhara yang sedang kerja di Frakfurt. Penasarannya terjawab sudah, ternyata benar kalau Bhara anak dari sahabat lamanya. Akhirnya Abinya Rizura menceritakan kalau anaknya itu temen sekantor Bhara. Abinya Bhara kaget ketika nama Rizura disebut. Sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Abinya Bhara langsung menyampaikan kisahnya Bhara dengan Rizura dan Beliau sedang di Jerman dalam rangka liburan sekaligus mau bertemu Rizura. Abinyanya Rizura berkali-kali mengucap Takbir. Inti dari perbincangan tersebut adalah kedua belah pihak senang bisa menyambung tali silaturahim, dan tambah senang lagi kalau kedua anaknya bisa bersatu dalam pernikahan. Abinya Rizura berjanji akan segera memberi jawaban setelah berbincang dengan anaknya. Keduanya sudah tidak sabar untuk besanan.


*****


Bibi Alen mengajak Rizura berbicara di kamarnya. Lalu keduanya berbincang santai, Rizura duduk di kasur dan bibi Alen duduk di kursi. Bibi Alen pelan-pelan menyampaikan keinginan Bhara. Kalau sebenarnya Bhara suka dengan Rizura dan berniat untuk menjadikannya istri. Bhara minta tolong bibi Alen, karena tidak ada waktu yang pas buat menyampaikan ke Rizura. Kalau diajak bicara berdua, Rizura selalu tidak mau. Hal yang membuat Bhara suka dengan Rizura, karena agamanya bagus, berjilbab, cerdas dan cantik. Pipi Rizura memerah mendengar cerita bibi Alen. Lalu bibi Alen membalikkan pertanyaan pada Rizura. Rizura diam, tapi dari sorot matanya terjawab kalau sebenarnya punya rasa yang sama dengan Bhara. Tapi jawaban yang keluar dari mulut Rizura, dia mau sholat istikhoroh dulu dan minta pendapat orang tuanya. Bibi Alen menganguk setuju lalu mengecup kening Rizura.


*****


Di kamar bawah, paman Benn dan Bhara lagi asyik melihat paket wedding di brosur yang tadi pagi dapet dari tetangga yang kebetulan lagi promo Wedding Organizer (WO). Bhara penasaran bagaimana hasil pembicaraan Rizura dengan Bibi Alen. Bibi Alen senyum-senyum dan memeluk Bhara sambil berbisik “Semoga dia jodohmu Nak, dia calon istri sholehah, dambaan para pria”. Bahara hanya bisa mnejawab “Aamiin…”.


*****


Di kamar Rizura langsung sholat Istikhoroh, minta petunjuk pada Robb semesta alam. Kalau Bhara baik buat dirirnya maka minta ditunjukkan jalannya, tapi jika Bhara bukan terbaik bagi dirinya mohon dijauhkan dengan baik-baik. Setelah berdo’a dan berdzikir Rizura ingat kebaikan-kebaikan Bhara, memprosentase kebaikan dan keburukannya. Ternyata berat dikebaikannya, keburukan Bhara hanya terjadi ketika perjalnan menuju Berlin dan kejadian Valentine. Sedangkan kebaikan Bhara terlihat dari awal kenal hingga di Bandara Frakfurt Am Main sebelum berangkat ke Berlin. Tak lupa Rizura minta pendapat ortunya, dia ceritakan apa yang bibi Alen sampaikan di kamarnya. Dan Umminya mencoba menjelaskan peristiwa Abinya menelphone Abinya Bhara. Tanpa disadari air mata Rizura meleleh.


“Insya Allah kami setuju Nak…tinggal kamu bagaimana?”


“Iya insya Allah Mi..Bi..”


Plong…rasanya batu yang berton-ton dipundak Rizura runtuh. Ummi dan Abbinya berkali-kali Takbir dan Tahmid.


“Alhamdulillah Nak…jadi Abi sampaikan ke Abinya Bhara ya berita bahagia ini”


“Iya silahkan Bi…untuk kedepannya Rizura manut Abi dan Ummi saja”


“Iya Nak…nanti kami bicarakan dengan orang tua Bhara”


*****


Kabar Bahagia ini sampe juga ke Bhara kalau Rizura menerimanya dan akad nikah akan dilaksanakan segera, bertempat di Rumah Paman Benn di Berlin. Namun Bhara hanya tahu infonya sebatas itu. Tentang ortu mereka temen lama, mereka mau datang ke Berlin itu semua off the record[26].


Malam itu juga paman Benn ditemani bibi Alen mengumpulkan Bhara dan Rizura di ruang tamu. Paman Benn menyampaikan pesan ortu Bhara kalau pihak kedua orang tua sudah saling setuju bahkan sangat mendukung dan selalu mendo’akan pernikahan yang penuh keberkahan. Akad nikah sebaiknya dilakukan segera. Untuk resepsi nanti dilakukan di Indonesia ketika liburan musim panas. Dan malam itu juga disepakati kalau Akad nikah akan dilakukan hari Jum’at setelah sholat ashar. Itu berarti tiga hari lagi.


*****


H-1 semua sudah siap. Rizura mneyempatkan video call dengan ortunya untuk meminta maaf dan mohon do’a restu. Air matanya tak bisa ditahan, dia sedih, di hari spesia ortu tidak ada di sisinya, bahkan diadakan bukan di rumahnya. Abi dan Umminya mencoba menjelaskan yang terpenting adalah Ijab Qobulnya, mau dimanapun kalau rukun dan syarat akad terpenuhi itu sudah sah. Rizura mencoba tegar dan menenangkan hatinya.


Setelah video call dengan ortunya selesai, banyak pesan yang masuk dari temen-temen sekantor. Mereka kaget dengan undangan yang kirim Bhara, bahkan tidak menyangka kalau ternyata Bhara dan Rizura liburan bareng dan berakhir akad nikah. Intinya mereka mengucapkan “glücklich Hochzeit”. Rizura tersenyum membaca pesan dari temen-temennya, begitu juga sang pangeran calon pengantin di kamar sebelah. Rizura menjawab pesan-pesan tersebut dengan ucapan trimaksh dan mohon do’anya supaya akad nikahnya lancar dan mendapat keberkahan dari Allah SWT. Aamiin..


Nggak lama setelah itu ada pesan masuk


“Selamat istirahat Rizura, kita sama-sama berdo’a untuk akad kita besok. Saya minta maaf atas semua khilaf yang saya lakukan. Mohon bimbinganmu setelah kita nikah nanti ya. Saya insya Allah siap menjadi lebih baik. Would you marry me?” J


“Insya Allah” J Tommorrow I become your wife, not your valentine!!!



[1] Pesawat kamu ditunda. Saya akan mengganti dengan kereta?


[2] Berapa lama dari sini ke Berlin?


[3] Empat sampai lima jam, dan kereta akan berangkat 30 menit lagi


[4] Malangnya


[5] Maskapai penerbangan terbesar di Eropa


[6] Peron kereta jarak jauh


[7] Kereta jarak jauh, yang dapat melaju hingga 330km/jam


[8] Stasiun kereta utama


[9] HR. Al-Bukhari, 4891


[10] Selamat datang di Berlin Bhara dan Rizura


[11] Terimakasih


[12] Perusahaan komunikasi swasta


[13] Sosis khas Jerman


[14] Berapa lama kalian akan tinggal di Berlin?


[15] Kami rencana tinggal di sini tiga hari


[16] Bisa jadi lebih


[17] Ya benar


[18] Mesin pemanas ruangan


[19] QS. Al Kafirun


[20] Daerah subur terpencil


[21] Pimpinan departemen


[22] Maukah kamu jadi valentinku?


[23] Ruang peralihan, penghubung pintu masuk dengan ruangan lainnya


[24] Lembaga pihak ketiga untuk membantu meningkatkan kinerja sebuah perusahaan


[25] Jalur


[26] Rahasia